Di ambang pintu yang catnya mulai mengelupas, seorang pria berdiri mematung. Senja di pundaknya terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena beban materi yang ia panggul seharian, melainkan karena rasa gentar yang menyelinap tiap kali jemarinya hendak mengetuk pintu rumahnya sendiri.
Dahulu, rumah adalah altar ketenangan. Sebuah tempat di mana aroma kopi dan senyum tulus istri sanggup meluruhkan segala debu jalanan. Namun kini, surga yang ia rindukan itu perlahan bermetamorfosis menjadi ruang yang asing, dingin, dan terkadang menyerupai neraka kecil bagi jiwanya yang letih.
Semua bermula dari lisan yang kehilangan kelembutannya. Kata-kata yang dulunya adalah madu, kini berubah menjadi bilah sembilu. Di balik meja makan, jerih payah yang ia kumpulkan dengan peluh dan harga diri sering kali dianggap sebagai "kewajiban yang biasa saja". Tak ada lagi binar kekaguman, yang tersisa hanyalah daftar tuntutan dan perbandingan yang menyayat hati.
"Ia tidak meminta mahkota, ia hanya merindukan satu kalimat. Terima kasih sudah berjuang untuk kami hari ini."
Bagi seorang suami, kalimat itu adalah penawar racun. Namun, ketika apresiasi itu kering, ia mulai merasa bukan lagi sebagai pahlawan di rumahnya sendiri, melainkan hanya sebuah mesin yang terus dipacu tanpa pernah diberi pelumas kasih sayang.
Banyak yang bertanya, mengapa ia tetap bertahan? Mengapa ia tetap memilih diam saat lisan istrinya menghujam?
Ia mengalah bukan karena kehilangan taring. Ia diam bukan karena takut akan perselisihan. Ia memilih menelan pahitnya kata-kata karena di matanya, perempuan itu masihlah sosok yang istimewa. Ia sedang mencoba menyelamatkan sisa-sisa kenangan manis yang pernah mereka bangun, meski ia harus terluka dalam prosesnya.
Suami adalah nahkoda yang rela dihantam badai di laut lepas, namun sering kali ia karam justru karena kebocoran kecil di dalam kapalnya sendiri, kata-kata yang merendahkan.
Rumah tidak butuh perabotan mewah untuk menjadi surga. Ia hanya butuh dua hati yang saling memanusiakan. Sebuah pernikahan akan kehilangan jiwanya saat rasa syukur digantikan oleh rasa gengsi untuk memuji.
Sudah saatnya lisan kembali menjadi penyembuh, bukan penghancur. Sebab, sehebat apa pun seorang pria di luar sana, ia tetaplah seorang anak manusia yang butuh tempat untuk "pulang" secara batiniah. Jangan biarkan ia kehilangan gairah untuk pulang, karena jika langkah kakinya sudah tak lagi menuju rumah, mungkin ia sedang mencari suaka di tempat lain, atau lebih buruk lagi, ia kehilangan dirinya sendiri di tengah keramaian.
Padang, 11 Januari 2026
By: Andarizal
