PADANG - 27 MEI 2026 - Mantan Rektor Universitas Negeri Padang (UNP) dua periode (2016–2024), Prof. Drs. H. Ganefri, M.Pd., Ph.D., mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan refleksi mendalam terhadap perayaan Hari Raya Idul Adha. Sebagai seorang akademisi dan tokoh pendidikan terkemuka di Sumatra Barat, beliau menekankan bahwa Idul Adha harus dipandang lebih dari sekadar ritual tahunan, melainkan sebagai momentum krusial bagi transformasi karakter dan penguatan solidaritas sosial.
Menurut Prof. Ganefri, makna hakiki dari Idul Adha adalah wujud ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan tertinggi seorang hamba kepada Allah SWT. Peringatan sejarah kepatuhan Nabi Ibrahim AS yang bersedia menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, sejatinya merupakan sebuah cetak biru (blueprint) teologis mengenai bagaimana manusia mengelola ego dan kecintaan duniawi mereka.
"Ibadah kurban tidak boleh berhenti pada dimensi ritual penyembelihan hewan semata. Ada esensi filosofis yang mendalam di dalamnya, yaitu transformasi karakter individu menuju kesalehan yang berdampak sosial," ujar Prof. Ganefri.
Dalam paparannya, Prof. Ganefri membedah empat pilar esensi dan hikmah mendalam dari perayaan Idul Adha yang relevan dengan penguatan karakter bangsa saat ini:
1. Dekonstruksi Ego Melalui Ketaatan dan Keikhlasan
Idul Adha mengajarkan umat Islam untuk melepaskan atau mengorbankan sesuatu yang dicintai demi menjalankan perintah Allah SWT tanpa keraguan. Dalam konteks modern, hal ini bermakna kesiapan mengorbankan kepentingan pribadi, jabatan, atau ego sektoral demi kemaslahatan publik dan kebenaran yang lebih hakiki.
2. Aktualisasi Semantik Kata "Kurban"
Secara etimologis, kata kurban berasal dari akar kata qaraba (قرب) yang berarti mendekatkan diri. Prof. Ganefri menjelaskan bahwa ibadah ini merupakan instrumen spiritual bagi seorang hamba untuk mengikis jarak dengan Sang Pencipta. Kedekatan spiritual inilah yang kemudian memancarkan nilai-nilai kejujuran dan integritas dalam kehidupan sehari-hari.
3. Manifestasi Solidaritas dan Keadilan Sosial
Ibadah kurban menjadi katalisator dalam memupuk rasa empati, kedermawanan, dan redistribusi kesejahteraan. Melalui pembagian daging kurban kepada fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan, Idul Adha berhasil meruntuhkan sekat-sekat sosial dan menciptakan pemerataan rezeki di tengah masyarakat.
4. Rekonstruksi Keteladanan Kolektif Keluarga
Prof. Ganefri juga menyoroti dimensi sosiologi keluarga dalam peristiwa Idul Adha. Ujian besar tersebut mampu dilewati karena adanya harmoni keteladanan, keteguhan Nabi Ibrahim AS sebagai kepala keluarga, kesabaran dan bakti Nabi Ismail AS sebagai generasi muda, serta keikhlasan Siti Hajar yang setia mendampingi dalam koridor keimanan. Keteladanan kolektif inilah yang menjadi fondasi ketahanan sosial bangsa.
Melalui momentum Idul Adha ini, Prof. Ganefri berharap nilai-nilai pengorbanan dan kepedulian sosial dapat terus diinternalisasi, khususnya di lingkungan akademik dan masyarakat luas, guna melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Pada akhirnya, Idul Adha adalah cermin besar bagi kita semua untuk bertanya pada diri sendiri, apakah "hewan kurban" yang kita sembelih hari ini telah berhasil mengikis sifat-sifat kebinatangan, ketamakan, dan keegoisan dalam dada kita?
Sebab, Allah tidak melihat rupa maupun harta kita, melainkan ketakwaan yang bersemayam di dalam hati. Ketika pisau kurban memutus urat nadi hewan sembelihan, saat itu pula ego, kesombongan, dan rasa paling benar dalam diri kita harus ikut ditumbangkan.
Melalui keteladanan mulia keluarga Nabi Ibrahim AS, kita diajarkan bahwa pengorbanan yang dilakukan dengan keikhlasan penuh tidak akan pernah berujung pada kehilangan. Sebaliknya, ia adalah jalan paling sunyi namun paling indah untuk melipatgandakan keberkahan hidup, merekatkan kembali retakan-retakan sosial di antara sesama, dan melangkah lebih dekat ke pelukan rida-Nya.
Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha. Mari kita jadikan momentum ini untuk saling merangkul, saling berbagi, dan bersama-sama merajut kembali rajutan kasih sayang di atas tanah pengabdian yang tulus, ucapan, Prof. Ganefri. (And)
