-->
  • Jelajahi

    Copyright © Portalanda
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Di Bawah Atap Kantin PLN UID Sumbar, Saat Jarak Profesi Melebur Jadi Saudara

    Rabu, 03 Juni 2026, Juni 03, 2026 WIB Last Updated 2026-06-03T12:18:25Z

    Ada kalanya, perjalanan dinas dan tugas profesional tidak melulu tentang map-map tebal, diskusi formal yang kaku, atau kesepakatan tertulis di atas kertas bermeterai. Kadang-kadang, momen paling berharga justru lahir secara tak terduga di ruang-ruang paling sederhana, di mana tawa lepas bisa mengalir tanpa beban, dan sekat-sekat jabatan runtuh seketika oleh sebuah kehangatan yang tulus.


    Pagi itu, Rabu, 3 Juni 2026, jarum jam baru saja menyentuh pukul 08.34 WIB. Udara Kota Padang masih menyisakan kesegaran yang tipis ketika saya, sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Kolaborasi Jurnalis Indonesia (DPP-KJI), melangkah menuju sebuah agenda kunjungan silaturahmi. Langkah saya hari itu terasa kian mantap karena didampingi oleh seorang mentor sekaligus tokoh pers nasional kebanggaan Sumatera Barat, Dr. Ir. H. Basril Basyar, M.M. Beliau adalah sosok yang telah mengarungi asam garam dunia jurnalistik, penerima penghargaan tertinggi Press Card Number One (PCNO), Dewan Penasihat PWI Pusat, sekaligus Ahli Pers Nasional. Kehadiran beliau senantiasa membawa wibawa tersendiri dalam setiap ruang komunikasi.


    Tujuan kami adalah Kantor PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Barat yang berdiri kokoh di Jalan Dr. Sutomo No. 16, Kelurahan Kubu Marapalam, Kecamatan Padang Timur. Kompleks bangunan ini bukan sekadar deretan dinding beton dan kaca; ia adalah jantung, pusat koordinasi penyaluran energi listrik sekaligus pusat layanan yang menerangi seluruh wilayah Sumatera Barat. Di tempat inilah, keputusan-keputusan besar mengalir demi memastikan lentera kehidupan masyarakat tetap menyala.


    Sesuai dengan protokoler formal, kami bersiap untuk sebuah pertemuan resmi yang barangkali akan dipenuhi perbincangan serius mengenai kemitraan atau arus informasi publik. Kami bersiap menemui sang nakhoda, General Manager PLN UID Sumbar, Bapak Ajrun Karim. Namun, takdir pertemuan pagi itu telah menyiapkan skenario yang jauh lebih indah dari sekadar formalitas birokrasi.


    Alih-alih diarahkan ke ruang rapat yang dingin dengan meja komando yang panjang, langkah kaki kami justru membawa kami ke sebuah sudut yang bersahaja, kantin di lingkungan kantor PLN. Di sanalah, di atas meja panjang dengan alas bermotif kotak-kotak kecil, kejutan itu dimulai. Bapak Ajrun Karim beserta jajarannya menyambut kami dengan senyuman yang begitu lepas. Dalam hitungan menit, prasangka tentang jarak antara pejabat dan jurnalis menguap begitu saja ke udara.


    Beliau ternyata adalah sosok yang luar biasa humanis. Di bawah naungan atap kantin yang sederhana itu, kami menemukan sosok pemimpin yang melucuti seluruh atribut formalitasnya, menyambut kami bukan sebagai pejabat kepada tamu, melainkan sebagai seorang sahabat lama. Di meja itu, ditemani oleh Kepala Humas PLN UID Sumbar, Ibu Yenti Elfina, yang memegang posisi strategis sebagai Manager Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta jajaran manajemen lainnya, kami duduk melingkar. Beberapa cangkir minuman dan piring-piring kecil kudapan menjadi saksi bagaimana sebuah ruang korporasi bertransformasi menjadi ruang keluarga.


    Gelak tawa mulai pecah. Renyah dan jujur. Sungguh, seakan tiada sekat yang membatasi kami. Tidak ada lagi jarak antara pers yang kritis dan instansi yang dinamis. Yang ada hanyalah sekelompok manusia yang saling menghargai, bertukar cerita, dan merayakan indahnya komunikasi yang searah dan setujuan. Komunikasi yang 'nyambung' ternyata tidak hanya mempermudah urusan publik, melainkan membawa sepercik kebahagiaan yang murni ke dalam hati kami masing-masing.


    Sebagaimana yang terekam abadi dalam selembar foto kenangan bersama yang penuh kehangatan, keceriaan itu bukanlah kepura-puraan yang dibuat-buat demi citra. Senyum lebar Ibu Yenti, tawa lepas Bapak Ajrun Karim, acungan jempol penuh optimisme dari rekan-rekan yang hadir, serta guratan kepuasan di wajah Bapak Basril Basyar dan saya sendiri, semuanya mengunci sebuah momen emosional yang mahal. Di sana, di sudut kantin itu, kami melepaskan tawa sebebas-bebasnya, membiarkan kebersamaan itu mengalir hangat di tengah kepenatan tugas profesi masing-masing.


    Usai pertemuan itu, ketika kami harus berpamitan dan melangkah keluar dari gerbang kantor di Kubu Marapalam, ada sesuatu yang tertinggal di dalam dada kami. Banyak hal berharga yang kami dapati hari itu, dan semuanya berada di luar urusan profesi. Kami membawa pulang sebuah sambutan yang teramat hangat dan rasa persaudaraan yang mendalam, sesuatu yang saya yakini akan terus menjadi pengingat abadi di antara kami di masa-masa yang akan datang.


    Menjelang langkah kaki kami benar-benar meninggalkan pelataran kantor di Jalan Dr. Sutomo itu, saya sempat menoleh ke belakang sekali lagi. Di sudut kantin yang mulai lengang, gema sisa tawa kami seolah masih tertinggal, menggantung di antara cangkir-cangkir kopi yang telah kosong.


    Pertemuan singkat ini menyadarkan kami akan satu hal yang sering kali terlupakan di tengah derasnya arus tuntutan kerja. Di atas segala status, jabatan, dan tanggung jawab besar yang dipikul oleh Bapak Ajrun Karim untuk menerangi Sumatera Barat, atau amanah yang ada di pundak kami untuk menjaga marwah informasi, kami semua hanyalah manusia biasa. Manusia yang merindukan ketulusan, yang membutuhkan ruang untuk sejenak melepaskan lelah, dan yang merasa utuh justru ketika dihargai sebagai seorang sahabat.


    Ibu Yenti Elfina dengan keramahannya, kehangatan seluruh jajaran PLN UID Sumbar, serta keteduhan pandangan Bapak Basril Basyar hari itu, telah merajut sebuah memori yang melampaui batas-batas formalitas korporasi maupun jurnalistik. Kami datang membawa misi profesi, namun pulang membawa ikatan hati. Rasa persaudaraan ini tidak tumbuh dari ruang rapat yang kaku, melainkan dari ketulusan yang saling menyapa di atas meja kantin yang sederhana.


    Ketika mobil yang kami tumpangi mulai bergerak membelah jalanan Kota Padang yang kian ramai, ada rasa damai yang menjalar di dada. Pertemuan hari ini bukan sekadar catatan perjalanan di buku agenda, melainkan sebuah goresan indah dalam lembaran kehidupan. Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat dan penuh tuntutan, kebersamaan yang tulus seperti inilah yang menjadi lentera sesungguhnya yang tidak hanya menerangi sudut-sudut kota, tetapi juga menghangatkan jiwa.


    "Semoga indahnya kebersamaan ini bisa terulang lagi", bukan sekadar sebagai harapan, melainkan sebagai janji bahwa persaudaraan yang telah terikat hari ini akan tetap terjaga, sekokoh jaringan energi yang menerangi bumi Ranah Minang.


    Padang, 3 Juni 2026

    Oleh: Andarizal


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini