Fajar di Kota Nabi selalu menyimpan ketenangan yang sulit diuraikan dengan kata. Usai dahi ini bersujud memohon rida-Nya di Masjid Nabawi pada fajar 24 Oktober, langkah kaki membawa kami kembali menapak lantai Madinah yang dingin namun menghangatkan jiwa.
Di salah satu sudut hotel usai santap pagi, detik-detik menjelang keberangkatan menuju Makkah tak berlalu begitu saja. Kami duduk melingkar saya, Pak Win, dan sosok yang kehadirannya senantiasa menyejukkan hati, Drs. H. Zakaria Khatib, pembimbing ibadah dari Berkah Travel yang akrab kami sapa Buya Zakaria.
Di sana, di antara aroma pagi dan lalu lalang kehidupan Al Haram, perbincangan itu mengalir pelan namun menghunjam ke dasar kalbu. Sungguh, ada rasa nikmat yang tiada tara ketika sekat-sekat keduniaan runtuh begitu saja. Tidak ada jarak antara pembimbing dan jemaah, tidak ada batas antara asing dan saudara. Yang tersisa hanyalah rajutan ukhuwah Islamiyah yang murni, terikat erat oleh niat yang sama, mengharap ampunan Sang Pencipta.
Dari tutur kata Buya Zakaria yang teduh, setiap nasihat bertukar menjadi telaga ilmu. Perjalanan ibadah ini tak lagi sekadar tentang melangkahkan kaki dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya, melainkan sebuah pengembaraan jiwa. Banyak pembelajaran keagamaan dan hikmah kehidupan yang beliau alirkan dengan penuh keikhlasan, membimbing nurani kami agar siap menyambut bait-bait doa di Makkah Al-Mukarramah.
Menjelang siang nanti, usai shalat Zuhur, kami akan beranjak meninggalkan Kota Madinah menuju Makkah untuk menunaikan inti dari ibadah umroh kami. Namun, jejak kebersamaan, kehangatan persaudaraan, dan mutiara ilmu dari Buya Zakaria akan senantiasa terpatri indah menjadi bekal berharga yang menyertai setiap jejak langkah kami menuju Ka'bah.
Oleh: Andarizal

