PAYAKUMBUH - 9 AGUSTUS 2025 - Di tengah rimbunnya perbukitan hijau Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, terukir sebuah kisah tentang harapan yang kini tergerus oleh waktu dan kurangnya perhatian. Embung Talago, sebuah proyek ambisius yang digadang-gadang akan menjadi penyelamat bagi para pejuang pangan di Nagari Sikabu-Kabu Tanjuang Haro Padang Panjang (SITAPA), kini terbujur kaku, menjadi saksi atas janji yang tak terawat.
Pada tahun 2020 silam, gaung pembangunan infrastruktur berlandaskan ketahanan pangan terdengar begitu nyaring. Ditjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR, melalui tangan Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V) Padang, mengucurkan dana APBN senilai lebih dari Rp 7,8 miliar. Angka yang fantastis, yang seolah menjanjikan masa depan cerah bagi ratusan petani yang bertahun-tahun merindukan ketersediaan air yang stabil. Lahan di Jorong Sikabu-Kabu pun dihibahkan oleh masyarakat dengan penuh keikhlasan, sebuah simbol gotong royong dan keyakinan akan masa depan yang lebih baik.
Saat fondasi embung mulai berdiri, optimisme merekah bak bunga di musim semi. Petani-petani memandang proyek ini bukan sekadar tumpukan beton dan tanah, melainkan sebuah lumbung harapan. Mereka membayangkan sawah-sawah yang teraliri air sepanjang tahun, panen yang melimpah, dan kehidupan yang lebih sejahtera. Embung Konservasi Talago, yang dibangun dengan megah, seolah menjadi jawaban atas doa-doa mereka.
Namun, seperti pepatah "harapan tak selamanya berbuah manis," cerita Embung Talago kini berbalik 180 derajat. Tiga tahun berselang, proyek yang menelan biaya miliaran rupiah itu justru terperosok dalam jurang ketidakberfungsian. Moncong air yang seharusnya mengalirkan kehidupan kini tersumbat, bukan oleh sedimen alami, melainkan oleh semak belukar yang tumbuh liar, membalut setiap sudut embung konservasi seolah ingin menelannya. Dinding-dinding beton yang dulunya kokoh, kini terlihat kusam dan ditinggalkan, menjadi saksi atas sebuah proyek yang terlupakan.
Pemandangan ini sungguh ironis. Sebuah plang proyek yang seharusnya menjadi penanda keberhasilan, kini tersembunyi di balik rimbunnya dedaunan, seolah malu menunjukkan identitasnya. Kondisi ini memicu tanya di benak masyarakat, terutama para petani yang dulu menaruh harapan besar. "Apakah tak ada biaya perawatan embung di Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS-V) Padang?" gumam warga saat bincang-bincang dengan awak media, sebuah pertanyaan yang sarat akan kekecewaan. Proyek yang dibangun dengan semangat ketahanan pangan, kini justru menjadi monumen kegagalan dalam pemeliharaan.
Kisah Embung Talago adalah cerminan pahit dari banyak proyek infrastruktur di negeri ini. Pembangunan fisiknya berjalan lancar, namun pasca-pembangunan, tanggung jawab perawatan seolah menguap begitu saja. Embung Talago kini tidak lagi berfungsi sebagai wadah penampung air, melainkan sebuah kuburan bagi harapan para petani. Ia menjadi pengingat yang menyakitkan, bahwa membangun tidak cukup, merawat adalah kunci agar sebuah proyek benar-benar memberikan manfaat yang berkelanjutan. Harapan yang dulu tumbuh subur kini layu, digantikan oleh pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di udara, menunggu jawaban dari pihak yang bertanggung jawab.
Berita ini akan terus kami update seiring dengan perkembangan informasi dari pihak terkait. (And)