-->
  • Jelajahi

    Copyright © Portalanda
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Demi Mereka, Alasan Mengapa Aku Menolak Menyerah

    Sabtu, 31 Januari 2026, Januari 31, 2026 WIB Last Updated 2026-01-31T14:30:27Z

    Ada satu titik di tengah malam yang sunyi, ketika hiruk-pikuk dunia mereda, seorang manusia terduduk dengan bahu yang terasa berat. Di saat seperti itu, ingin rasanya meletakkan segala beban, memejamkan mata, dan berhenti sejenak dari perlombaan hidup yang melelahkan. Namun, setiap kali keinginan untuk menyerah itu datang, bayangan wajah-wajah mungil yang sedang terlelap hadir menjadi penawar.


    Berjalan di atas jalan yang berliku bukan perkara mudah. Terkadang kerikil tajam bernama "kebutuhan" dan tanjakan terjal bernama "ketidakpastian" membuat napas tersengal. Namun, di tangan kanan dan kiri ini, ada mimpi anak-anak yang sedang digenggam erat.


    Mimpi mereka adalah cahaya. Jika tangan ini melemah, cahaya itu mungkin meredup. Jika punggung ini menyerah, harapan yang mereka gantungkan setinggi langit bisa ikut runtuh. Itulah mengapa, meski kaki gemetar, langkah harus tetap terlihat ringan. Bukan karena kuat secara fisik, tapi karena hati yang dipenuhi mandat dari Tuhan.


    Perjuangan ini bukan lagi tentang pencapaian pribadi. Ini adalah tentang memastikan mereka memiliki lantai yang lebih kokoh untuk berpijak dan langit yang lebih luas untuk terbang. Di setiap tetes keringat, terselip doa yang lirih namun bertenaga. 


       "Ya Allah, jika jalanku masih panjang, beri aku kekuatan ekstra. Jika dadaku terasa sesak oleh beban ini, lapangkanlah sedalam samudera."


    Kesabaran bukan lagi soal menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana terus menari di bawah hujan demi melihat mereka tetap kering dan hangat.


    Menyerah adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa dibeli oleh seorang pejuang keluarga. Sebab, di balik setiap lelah yang disembunyikan, ada masa depan yang sedang ditenun. Di balik setiap keluhan yang ditelan, ada harga diri anak-anak yang sedang dijaga.


    Pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukan saat kita sampai di puncak sendirian, melainkan saat kita melihat mereka mampu berdiri tegak, menatap masa depan dengan berani, dan menyadari bahwa semua itu bermula dari punggung seseorang yang menolak untuk menyerah.


    Sebab hari ini, esok, dan selamanya... ini bukan tentang aku. Ini tentang mereka yang kucintai sepenuh jiwa.


    Padang, 31 Januari 2026

    By: Andarizal

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini