Dunia seringkali tidak memberi aba-aba saat sebuah babak akan berakhir. Kita sering kali sedang tertawa begitu riuh, merayakan hal-hal kecil, tanpa menyadari bahwa waktu tengah bekerja di balik layar, menyiapkan persimpangan yang akan memaksa dua pasang kaki melangkah ke arah yang berbeda.
Dahulu, langkah kaki terasa begitu ringan. Kebersamaan bukan sekadar kehadiran fisik, melainkan bahan bakar yang menguatkan setiap upaya untuk menatap masa depan. Namun, kini realita berkata lain. Tawa yang dulu menjadi musik latar kehidupan, perlahan memudar, menyisakan gema sunyi yang panjang.
Sepi ini bukan karena ketiadaan suara, melainkan karena hilangnya satu suara yang paling kita kenali. Kita dipaksa berteman dengan kekosongan, mencoba merajut kembali hari-hari tanpa sosok yang biasanya mengisi setiap celah pikiran.
Ada sebuah paradoks dalam ingatan, kita ingin melepaskan, namun memori justru sering kali menjadi sisi yang paling setia. Kita masih mengingat dengan saksama cara kita bahagia, detail kecil tentang bagaimana mata itu berbinar atau bagaimana sebuah percakapan bisa berlangsung hingga larut senja.
Perpisahan ternyata datang lebih cepat dari yang sempat kita duga. Waktu, dengan sifatnya yang tak kenal kompromi, menarik kita ke kutub yang berlawanan. Di sinilah letak melankolinya, ketika kita harus berjalan maju ke masa depan, namun separuh dari hati kita masih tertinggal di masa lalu, menjaga kenangan-kenangan itu agar tidak lekang oleh waktu.
Mengakui bahwa sebuah cerita telah berakhir adalah satu hal, namun memadamkan rasa yang pernah ada adalah hal lain yang jauh lebih sulit. Cerita itu mungkin tak lagi memiliki kelanjutan, halaman-halamannya telah habis terisi, dan sampulnya telah tertutup. Namun, di dalam hati sang pembaca, tokoh-tokohnya masih hidup.
"Kebersamaan kita memang telah usai, tapi rasa yang pernah ada masih hidup meski hanya sebagai cerita."
Luka yang "setia tinggal" bukanlah tanda kelemahan. Itu adalah bukti otentik bahwa apa yang pernah kita jalani adalah nyata. Itu adalah tanda bahwa kita pernah mengasihi, menyayangi dengan sungguh-sungguh. Kita belajar untuk berdamai dengan rasa sakit tersebut, bukan dengan cara melupakannya, melainkan dengan memberinya ruang sebagai bagian dari sejarah hidup kita.
Pada akhirnya, tidak semua perjalanan harus mencapai garis finis yang sama. Beberapa orang hadir dalam hidup kita bukan untuk tinggal selamanya, melainkan untuk menjadi pengajar tentang bagaimana rasanya menjadi utuh, sebelum akhirnya kita harus belajar berdiri tegak sendirian.
Meski kini hanya tinggal cerita yang tersimpan dalam ingatan yang enggan pudar, cerita itu tetaplah milik kita. Dan di dalam perpustakaan kenangan itu, kita akan selalu punya tempat untuk kembali, sekadar untuk mengenang bahwa kita pernah sedemikian hebatnya dalam berbagi rasa.
Padang, 11 Januari 2026
By: Andarizal
