-->
  • Jelajahi

    Copyright © Portalanda
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    NAGARI UNGGAN DALAM NADA: EKSPLORASI KESENIAN DAN KEINDAHAN TALEMPONG

    Jumat, 09 Januari 2026, Januari 09, 2026 WIB Last Updated 2026-01-09T13:15:48Z

    NAGARI UNGGAN IN TONE: EXPLORING THE ART AND BEAUTY OF TALEMPONG. 

    Citra Kurnia Illahi, Delon Ardiansyah, Ikbal Oktari, Muhammad Farhan Lazwardi, Drs. Purwantono, M.Pd. 

    Universitas Negeri Padang 

    Email : citrathaufiq@gmail,com 

     

         ABSTRAK 


    Talempong Unggan merupakan salah satu bentuk seni tradisional Minangkabau yang berasal dari Nagari Unggan, Kabupaten Sijunjung. Alat musik ini memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi sistem nadanya, pola permainannya, maupun tradisi yang melingkupinya. Talempong Unggan dimainkan dengan lima tangga nada khas dan tempo cepat yang menghasilkan alunan melodi dinamis dan penuh semangat. Uniknya, tradisi ini secara adat hanya dimainkan oleh kaum perempuan, yang berperan sebagai pelestari budaya turun-temurun. Beberapa melodi tradisional yang terkenal antara lain Tupai Bagaluik dan Kancang Dayuang, masing-masing memiliki karakteristik irama dan fungsi sosial tersendiri dalam masyarakat. Selain sebagai ekspresi seni, Talempong Unggan juga menyimpan nilai adat dan kepercayaan lokal, seperti larangan memainkannya saat masa padi mulai berbuah (padi tabik) karena diyakini dapat mempengaruhi hasil panen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi di Nagari Unggan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Talempong Unggan tidak hanya menjadi warisan seni, tetapi juga bagian dari sistem nilai, filosofi hidup, dan kearifan lokal masyarakat Unggan yang terjalin erat dengan adat dan lingkungan. Seni tradisional ini tetap bertahan sebagai identitas budaya yang sarat makna di tengah masyarakat Minangkabau. Kata Kunci: Talempong Unggan, seni tradisional, Minangkabau, kepercayaan lokal, perempuan, tempo cepat, padi tabik 


    ABSTRACT 

    Talempong Unggan is a traditional Minangkabau art form originating from Nagari Unggan, Sijunjung Regency. This musical instrument is unique in terms of its tonal system, playing patterns, and the traditions surrounding it. Talempong Unggan is played with a distinctive five-note scale and a fast tempo, producing a dynamic and energetic melody. Uniquely, this tradition is traditionally played only by women, who serve as the preservers of the inherited culture. Some well-known traditional melodies include Tupai Bagaluik and Kancang Dayuang, each with its own rhythmic characteristics and social function within the community. In addition to being an artistic expression, Talempong Unggan also embodies local customs and beliefs, such as the prohibition on playing it during the rice harvest (paddy tabik) as it is believed to affect the harvest. This research used a descriptive qualitative approach using observation, interviews, and documentation techniques in Nagari Unggan. The research results show that Talempong Unggan is not only an artistic heritage but also part of the Unggan people's value system, philosophy of life, and local wisdom, which are closely intertwined with customs and the environment. This traditional art form persists as a meaningful cultural identity within the Minangkabau community. Keywords: Talempong Unggan, traditional art, Minangkabau, local beliefs, women, fast tempo, padi tabik 

     

    PENDAHULUAN 

    Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan budaya dan tradisi, dengan setiap daerah memiliki ciri khas seni yang unik dan berakar kuat pada kehidupan masyarakatnya. Salah satunya adalah Minangkabau di Sumatera Barat, yang tak hanya terkenal dengan adat matrilinealnya, tetapi juga dengan ragam seni tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Musik tradisional menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana komunikasi budaya, perekat sosial, dan media ungkapan nilai-nilai adat. Di antara beragam alat musik tradisional yang lahir dari bumi Minangkabau, talempong menjadi salah satu instrumen yang paling dikenal dan memiliki nilai filosofis tinggi. Talempong adalah alat musik pukul berbentuk bundar kecil, terbuat dari logam kuningan atau campuran timah, yang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat pemukul khusus (Yulianti Rahayu Nengsih, 2019). Keberadaan talempong tidak bisa dilepaskan dari berbagai kegiatan adat dan tradisi Minangkabau, mulai dari upacara adat, pertunjukan seni, hingga acara penyambutan tamu kehormatan (Ilmu Pengetahuan Dan Karya Seni et al., 2013). Meski talempong tersebar di berbagai daerah Minangkabau, setiap nagari memiliki corak permainan yang khas, baik dari segi teknik, irama, maupun fungsi sosialnya. Salah satu bentuk permainan talempong yang unik dan masih terjaga keasliannya hingga kini adalah Talempong Unggan, yang berasal dari Nagari Unggan di Kabupaten Sijunjung (Madona Adoma, 2018). 


    Keunikan Talempong Unggan terletak pada sistem nadanya yang khas. Meskipun sederhana, sistem nada ini mampu menghasilkan alunan melodi yang merdu, khas, dan sarat keindahan (Cepri Zulda Putra, 2019). Keindahan tersebut semakin terasa karena permainan Talempong Unggan selalu dibawakan dengan tempo cepat, menciptakan irama yang dinamis, enerjik, dan penuh semangat. Ketukan yang berpadu dengan harmoni nada yang cepat menghasilkan alunan yang mampu membangkitkan suasana riang, penuh kegembiraan, dan seringkali menjadi daya tarik utama dalam berbagai pertunjukan adat. Lebih dari sekadar permainan musik, Talempong Unggan juga memiliki keunikan lain dari sisi pelaku seni. Di Nagari Unggan, permainan talempong ini secara turun-temurun dimainkan oleh kaum perempuan. Para perempuan setempat mempelajari dan mewarisi teknik permainan talempong dari ibu atau kerabatnya, lalu memainkannya secara berkelompok dalam berbagai kesempatan, seperti acara adat, pesta pernikahan, penyambutan tamu, maupun kegiatan nagari lainnya. Tradisi ini mencerminkan peran penting perempuan dalam pelestarian budaya lokal serta memperlihatkan betapa kuatnya nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong dalam masyarakat Unggan. Selain teknik permainan dan pola nadanya yang khas, Talempong Unggan juga dikenal karena kaya akan variasi melodi. Setiap melodi memiliki nama dan karakter tersendiri, serta digunakan dalam berbagai konteks acara. Di antara lagu-lagu yang paling dikenal adalah Tupai Bagaluik, Kancang Dayuang dan lain-lain, yang masing-masing memiliki pola ritme berbeda dan sering dimainkan sesuai kebutuhan acara atau suasana. Melodi-melodi ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari ekspresi seni dan identitas masyarakat Unggan yang terus dijaga kelestariannya hingga saat ini. 


    Melalui artikel ini, akan dikupas secara lebih mendalam mengenai keindahan alunan melodi Talempong Unggan, mulai dari keunikan sistem tangga nadanya, tempo permainannya yang khas, peran perempuan sebagai pelaku tradisi, serta beberapa mitos dan misteri yang berkaitan dengan talempong unggan, hingga ragam melodi yang menjadi kekayaan musikal masyarakat Unggan. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang seringkali menggerus tradisi lokal, Talempong Unggan tetap bertahan sebagai simbol kekayaan seni tradisional Minangkabau bukti nyata bahwa keindahan dan kearifan lokal tetap hidup di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai budaya warisan leluhur. 


    METODE PENELITIAN 

    Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan secara mendalam keindahan alunan melodi Talempong Unggan yang khas dari Nagari Unggan, Kabupaten Sijunjung. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini menitikberatkan pada pengamatan, pemahaman, dan interpretasi terhadap praktik budaya serta seni tradisional yang hidup dalam masyarakat (Somantri, 2005). Fokus penelitian ini diarahkan pada ciri khas permainan Talempong Unggan, di antaranya penggunaan lima tangga nada khas, pola permainan dengan tempo cepat, peran perempuan sebagai pemain utama, serta variasi melodi yang biasa dimainkan seperti Tupai Bagaluik dan Kancang Dayuang. Lokasi penelitian berada di Nagari Unggan, tempat asal tradisi Talempong Unggan, dengan subjek penelitian terdiri atas para pemain talempong (khususnya perempuan), tokoh masyarakat, dan pelaku seni lokal yang memahami serta melestarikan tradisi ini. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik, yaitu observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Observasi dilakukan secara langsung dalam kegiatan latihan dan pertunjukan Talempong Unggan untuk melihat pola permainan, tempo, dan ekspresi musikal yang muncul. 


    Wawancara mendalam dilaksanakan dengan pemain, tokoh adat, dan pelatih seni untuk menggali informasi tentang sejarah, filosofi permainan, teknik khas, serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Selain itu, studi dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan bukti visual, rekaman suara, dan catatan sejarah permainan Talempong Unggan (Rifka Agustianti et al., 2022). Data yang terkumpul dianalisis menggunakan model analisis interaktif, yang meliputi proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilah informasi yang relevan sesuai dengan fokus penelitian, seperti penggunaan lima tangga nada dan karakter tempo cepat. Penyajian data berupa uraian deskriptif hasil pengamatan, wawancara, dan dokumentasi yang disusun secara sistematis. Selanjutnya, penarikan kesimpulan dilakukan dengan menginterpretasikan data untuk menemukan makna dan nilai estetika dari permainan Talempong Unggan dalam konteks budaya masyarakat Unggan. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode, yaitu membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi dari berbagai pihak agar data yang diperoleh valid dan dapat dipercaya. 


    HASIL DAN PEMBAHASAN 

    Talempong Unggan merupakan salah satu bentuk seni tradisi yang memiliki kekhasan tersendiri dalam budaya Minangkabau. Keunikan pertama yang sangat mencolok terletak pada sistem tangga nada yang digunakan. Tidak seperti alat musik lain yang mungkin menggunakan sistem nada diatonis atau pentatonis Barat, Talempong Unggan hanya memiliki lima tangga nada khas yang diwariskan secara turun-temurun. Kelima nada ini membentuk karakter bunyi yang khas, sederhana, namun tetap mampu menghasilkan harmoni yang indah dan memikat hati para pendengarnya. Urutan tangga nadanya ialah 4-2-1-3-5. Nada 1 berada di tengah. Nada 1 diapit oleh nada 2 di kiri dan nada 3 di kanan. Nada 4 berada di kiri nada 2, sedangkan nada 5 berada di kanan nada 3 (Bahar et al., 2011). namun susunan nada talempong tidak berurutan dari kiri ke kanan. Posisi nada disesuaikan dengan lagu yang akan dinyanyikan. Keterbatasan jumlah nada justru menjadi ruang kreativitas bagi para pemain Talempong Unggan dalam menciptakan berbagai pola melodi dan permainan nada yang unik. Dengan penguasaan terhadap lima tangga nada ini, para pemain dapat menghasilkan alunan musik yang hidup dan dinamis, yang tetap menarik dan tidak monoton meskipun nadanya terbatas. 

    Gambar 1. Talempong unggan 


    Selain keunikan tangga nada, ciri khas lain dari Talempong Unggan terletak pada tempo permainannya. Berdasarkan hasil observasi langsung dan wawancara dengan masyarakat setempat, diketahui bahwa Talempong Unggan hampir selalu dimainkan dengan tempo cepat. Tempo cepat ini menjadi salah satu identitas utama permainan Talempong Unggan yang membedakannya dari jenis permainan talempong di daerah Minangkabau lainnya. Permainan dengan tempo cepat membutuhkan keterampilan tinggi dari para pemain, terutama dalam hal kecepatan tangan, konsentrasi, dan kekompakan antar pemain. Tempo yang cepat tidak hanya menghadirkan suasana yang meriah dan penuh semangat, tetapi juga memperlihatkan tingkat kesulitan dan teknik permainan yang cukup tinggi. Para pemain harus mampu menjaga ketukan tetap stabil dan melodi tetap harmonis, terutama saat dimainkan dalam format kelompok. 


    Kesalahan kecil dalam menjaga irama dapat menyebabkan permainan menjadi kacau. Oleh karena itu, selain keterampilan, latihan yang rutin dan kekompakan kelompok menjadi kunci utama dalam menjaga keindahan alunan melodi Talempong Unggan. Dari sisi tradisi sosial, Talempong Unggan memiliki aturan tersendiri mengenai siapa yang boleh memainkannya. Berdasarkan keterangan para tokoh masyarakat dan pelaku seni di Unggan, Talempong Unggan secara adat hanya dimainkan oleh kaum perempuan (Marh & Budiawan, 2020). Ini sudah menjadi aturan tidak tertulis yang berlaku sejak lama di masyarakat Unggan. 


    Apabila seorang laki-laki memainkan Talempong Unggan, maka ia akan dianggap melanggar norma dan bahkan sering kali diejek atau disebut sebagai “banci”. Pandangan ini bukan tanpa alasan, melainkan karena Talempong Unggan dianggap sebagai bagian dari peran perempuan dalam menjaga dan melestarikan tradisi seni di lingkungan mereka. Perempuan di Nagari Unggan memegang peran penting dalam mempertahankan warisan budaya ini, baik sebagai pemain, pengajar, maupun pewaris tradisi (Mk, 2014). Keikutsertaan mereka dalam seni Talempong bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial dan adat istiadat masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa di balik keindahan alunan melodinya, Talempong Unggan juga menjadi simbol penghargaan terhadap peran perempuan dalam kehidupan budaya masyarakat Minangkabau. 

    Gambar 2. Mengunjungi salah satu rumah warga yang biasa memainkan talempong unggan 


    Selain persoalan siapa yang boleh memainkan, hasil penelitian juga mengungkap bahwa Talempong Unggan memiliki ragam melodi tradisional yang khas dan kaya makna. Beberapa di antaranya yang paling dikenal di masyarakat adalah Tupai Bagaluik, Kancang Dayuang dan lainnya. Melodi Tupai Bagaluik dikenal dengan irama yang cepat, lincah, dan bersemangat, menggambarkan gerakan seekor tupai yang berlari dan melompat di antara dahan pohon (Indrawati & Marzam, 2022). Melodi ini sering dimainkan dalam acara adat atau hiburan masyarakat sebagai bentuk ekspresi kegembiraan. Sementara itu, Kancang Dayuang merupakan melodi yang memiliki pola ritme lebih kuat dan menghentak, seolah-olah meniru gerakan mendayung di sungai yang memerlukan kekuatan dan kekompakan. Melodi ini sering digunakan dalam acara yang bertemakan semangat kebersamaan dan gotong royong. Kedua melodi ini hanyalah sebagian kecil dari khazanah melodi yang dimiliki oleh tradisi Talempong Unggan. Variasi melodi lainnya juga memiliki keunikan dan fungsi tersendiri dalam kehidupan adat masyarakat Unggan. Setiap melodi tidak hanya sebatas alunan musik, tetapi juga membawa pesan, cerita, dan filosofi yang hidup dalam masyarakat. Berikut merupakan tangga nada melodi Tupai Bagaluik. 

    Gambar 3. Tangga nada pola anak 

    Gambar 4. Tangga nada pola dasar 

    Gambar 5. Tangga nada pola paningkah 


    Salah satu aspek menarik yang menjadi bagian dari pembahasan ini adalah adanya kepercayaan adat yang berkaitan dengan waktu memainkan Talempong Unggan. Masyarakat Unggan meyakini bahwa Talempong tidak boleh dimainkan pada masa padi tabik, yaitu masa ketika padi mulai berbunga atau berbuah. Kepercayaan ini berakar pada keyakinan bahwa memainkan Talempong di masa tersebut dapat menyebabkan padi menjadi ampo atau kosong, yaitu padi yang tidak berisi. Keyakinan ini dipegang kuat oleh masyarakat sebagai bentuk kearifan lokal yang menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan alam. Sebagai masyarakat agraris yang menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian, terutama padi, masyarakat Unggan sangat menghormati masa pertumbuhan tanaman. Memainkan Talempong di masa padi tabik dianggap sebagai tindakan yang dapat membawa sial atau bencana bagi hasil panen. Oleh sebab itu, setiap kelompok seni dan masyarakat di Nagari Unggan selalu menghormati aturan ini dengan tidak mengadakan latihan, pertunjukan, atau permainan Talempong Unggan selama masa tersebut berlangsung. 


    Kepercayaan ini menunjukkan bahwa Talempong Unggan tidak hanya menjadi bagian dari seni pertunjukan, tetapi juga erat kaitannya dengan nilai-nilai adat, kepercayaan, dan filosofi hidup masyarakat setempat (Fahmi Marh, 2016). Seni dan adat berjalan berdampingan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Di balik keindahan alunan melodinya, Talempong Unggan memuat nilai-nilai penghormatan terhadap alam, tradisi, dan kehidupan sosial. Ini menjadi bukti bahwa seni tradisional Minangkabau bukan hanya soal pertunjukan, tetapi juga tentang cara hidup yang penuh dengan penghargaan terhadap alam semesta dan sesama manusia. 


    KESIMPULAN 

    Talempong Unggan merupakan salah satu kekayaan seni tradisional Minangkabau yang memiliki keunikan baik dari aspek musikal, sosial, maupun nilai budaya. Ciri khasnya terletak pada sistem tangga nada lima nada yang sederhana namun mampu menghasilkan harmoni khas, serta tempo permainan yang cepat, enerjik, dan penuh semangat. Keunikan lain yang menonjol adalah tradisi bahwa Talempong Unggan hanya dimainkan oleh kaum perempuan, yang menjadi simbol pentingnya peran perempuan dalam pelestarian budaya di Nagari Unggan. 


    Ragam melodi khas seperti Tupai Bagaluik dan Kancang Dayuang menunjukkan betapa kaya dan bermaknanya khazanah musik Talempong Unggan, masing-masing membawa pesan, karakter, dan filosofi tersendiri. Lebih jauh, Talempong Unggan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau seni pertunjukan, tetapi juga terikat erat dengan kepercayaan adat dan kearifan lokal, seperti larangan memainkan talempong saat masa padi tabik, yang mencerminkan penghormatan masyarakat terhadap alam dan hasil pertanian. Dengan demikian, Talempong Unggan menjadi simbol perpaduan antara seni, adat, dan kehidupan sosial masyarakat Unggan sebuah warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat modern dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Minangkabau. 


    REFERENSI 

    Bahar, I.-M., PetrrnggrEg Jawalrllepaia PUSINDOK, Mh., Pimpinrn Redaksi, Ms., Pen, K., Ediwar, unting, Kendal Malik, F., Ezu Oktavianus, Md., Sekretariat, Ms., hrdaya, A., llham Sugesti, Mp., Roz, Sk.-E., & Jumal adalah tanggungjawab penulis, I. (2011). PEMBELAJARAN MUSIK TALEMPONG UNGGAN BERDASARKAN LITERATUR. 


    Cepri Zulda Putra. (2019). UNGGAN BABUNI.


    Fahmi Marh. (2016). TRANFORMASI MUSIK CALEMPONG UNGGAN KE DOMAIN KOMPOSISI IMPRESION UNGGAN. Jurnal Puitika, 12, 101–121. 


    Ilmu Pengetahuan Dan Karya Seni, J., Rektor ISI Padangpanj ang Mahdi Bahar, P., Penanggung Jawab Kepala PUSINDOK Seni Budaya Melayu Ahmad Bahrudin, Mh., Editor, Ms., Redaksi Arga Budaya, P., Tim Editor Ediwar, Mp., Sn, S., Nursyirwan SPd, Mh., Rosta Minawati, Ms., Hartitom, Ms., MSn Adi Krishna, Sp., MEd Hajizar, S., Sulaiman Juned, Ms., Desain Grafis, Ms., Wisnu Prastawa, F., Ezu Oktavianus, Ms., Sekretariat Wira Darma Prasetia, Ms., Ilham Sugesti, Sk., Delfi Herif, Sk., … Barat, S. (2013). PERKEMBANGAN TALEMPONG TRADISI MINANGKABAU KE “TALEMPONG GOYANG” DI SUMATERA BARAT (Vol. 14, Issue 1). www.isi-padangpanjang.ac.id 


    Indrawati, D., & Marzam, M. (2022). Penggunaan dan Fungsi Musik Talempong Unggan pada Acara Baralek di Nagari Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. Jurnal Sendratasik, 11(2), 137. https://doi.org/10.24036/js.v11i2.114152 


    Madona Adoma, A. (2018). Instrumentasi dan Aspek Teknis Permainan Talempong Pacik Masyarakat Minangkabau. JURNAL SENI DESAIN DAN BUDAYA, 3(3), 110–114. 


    Marh, F., & Budiawan, H. (2020). DOMESTIKASI PEREMPUAN MELALUI MUSIK PERKUSI TRADISIONAL CALEMPONG DI NAGARI UNGGAN SUMATERA BARAT DIPANDANG SEBAGAI REFRAIN. In Jurnal Penelitian Musik (Vol. 1, Issue 2). 


    Mk, A. (2014). PENULISAN ETUDE-ETUDE MUSIK TALEMPONG UNGGAN (Sebuah Usaha Pembelajaran Musik Tradisi Berbasis Literatur). 


    Rifka Agustianti, P., Nussifera, L., Angelianawati, L., Meliana, I., Alfiani Sidik, E., Nurlaila, Q., Simarmata, N., Sophan Himawan, I., Pawan, E., Ikhram, F., Dwi Andriani, A., & Rai Hardika Editor Ni Putu Gatriyani Nanny Mayasari, I. (2022). METODE PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF TOHAR MEDIA (Ni Putu Gatriyani & Nanny Mayasari, Eds.). TOHAR MEDIA. https://toharmedia.co.id 


    Somantri, G. R. (2005). MEMAHAMI METODE KUALITATIF. Makara Human Behavior Studies in Asia, 9(2), 57. https://doi.org/10.7454/mssh.v9i2.122 


    Yulianti Rahayu Nengsih. (2019). BENTUK PENYAJIAN TALEMPONG UNGGAN PADA ACARA KHITANAN DI KECAMATAN SUMPUR KUDUS KABUPATEN SIJUNJUNG. Jurnal Sendratasik, 8, 70–77. 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini