Di tengah deru mesin ekskavator yang membelah keheningan kawasan Gunung Nago, ada sesosok figur yang sigap memantau pergerakan tanah dan aliran air. Ia adalah Satriawan, ST. MT., Kepala Satker Operasi dan Pemeliharaan (OP) Sumber Daya Air BWSS V Padang. Bagi masyarakat Lambung Bukit, kehadiran BWSS-V Padang merupakan simbol hadirnya negara di tengah sisa-sisa kehancuran pasca-banjir yang melanda Sumatera Barat.
Satriawan bukanlah orang baru dalam urusan infrastruktur air di ranah Minang. Pengalaman belasan tahun sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di lingkungan BWSS V Padang telah menempa instingnya dalam memahami karakteristik sungai-sungai besar di Sumatera Barat. Maka, ketika bencana banjir datang menerjang dan meninggalkan duka, ia tidak memilih duduk di balik meja.
Tanpa kenal lelah, ia turun langsung menyisir titik-titik terdampak. Dari satu lokasi ke lokasi lain, Satriawan memastikan bahwa penanganan darurat tidak hanya dilakukan secara cepat, tetapi juga tepat secara teknis.
Kawasan Gunung Nago di Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, menjadi salah satu saksi betapa dahsyatnya kekuatan air yang meluluhlantakkan bantaran sungai. Batang Air Kuranji yang dulunya tertata, sempat porak-poranda meninggalkan tumpukan material dan kerusakan infrastruktur.
Namun, pemandangan saat ini telah berubah. Di bawah komando Satriawan, penanganan dilakukan secara terukur. Beberapa unit ekskavator dikerahkan untuk melakukan normalisasi, mengembalikan alur sungai yang sempat tertutup, dan memperkuat tanggul-tanggul yang kritis.
"Kerja profesional itu terlihat dari hasilnya. Kami melihat langsung bagaimana beliau memimpin di lapangan, memastikan alat bekerja efektif dan mendengar keluhan warga," ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Filosofi kerja yang diusung Satriawan tampaknya sederhana namun mendalam: Profesionalisme yang Terukur. Dalam dunia OP-SDA, setiap pengerukan dan penataan batu bukan tanpa perhitungan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi debit air di masa depan agar kejadian serupa tidak terulang dengan dampak yang sama hebatnya.
Apresiasi yang mengalir dari warga dan tokoh masyarakat di Pauh bukanlah sekadar basa-basi. Ini adalah bentuk pengakuan atas rasa aman yang perlahan kembali hadir. Bagi masyarakat, melihat sungai yang mulai tertata adalah melihat harapan baru untuk kembali beraktivitas tanpa rasa cemas setiap kali hujan turun.
Kepemimpinan Satriawan di Satker OP-SDA BWSS V Padang memberikan pesan kuat bahwa birokrasi yang responsif dan teknokrat yang berjiwa lapangan adalah kunci utama dalam pemulihan pasca-bencana. Di antara bebatuan Gunung Nago, dedikasi itu kini terpatri dalam aliran sungai yang mulai tenang dan tertata kembali.
Padang, 14 Januari 2026
Oleh: Andarizal
