Dunia mungkin melihatmu sebagai sosok yang tangguh, perempuan dewasa yang mampu menaklukkan badai dan mendaki puncak-puncak ambisi dengan kaki sendiri. Namun bagiku, waktu adalah sebuah paradoks. Sejauh apa pun langkahmu menjauh, setinggi apa pun kamu terbang, pandanganku tetap terpaku pada satu titik, hari pertama saat jemari mungilmu melingkar di kelingkingku.
Di mata dunia, kamu adalah wanita yang sudah mampu menyusun narasi hidupmu sendiri. Namun di mata ayah, kamu tetaplah gadis kecil yang dulu ragu melangkah, yang tawanya menjadi musik paling merdu di rumah kita.
Aku akui, aku bukanlah penyair yang pandai merangkai kata lembut. Seringkali, diamku dianggap sebagai tanda bahwa aku percaya kamu sudah cukup kuat. Padahal, di balik diam itu, aku sedang menahan napas, memperhatikanmu dari kejauhan dengan rasa cemas yang tak pernah padam.
Aku melihatmu bukan sebagai perempuan dewasa yang sempurna tanpa celah, melainkan sebagai gadis kecilku yang sedang berjuang, yang diam-diam belajar menyusun kepingan takdir dan menuliskan jalan ceritanya sendiri. Aku melihat keringatmu, aku melihat tangis yang kamu sembunyikan, dan aku melihat keberanianmu yang tumbuh di sela-sela kerapuhan.
Ada satu kebenaran yang mulai aku pelajari, meski rasanya perih di dada. Bahwa kelak, di dalam bab-bab terbaru dalam buku kehidupanmu, nama ayah mungkin tidak lagi muncul sebagai tokoh utama. Mungkin namaku hanya akan menjadi catatan kaki, atau sekadar kenangan di halaman-halaman awal.
Aku menyadari bahwa tugasku bukan untuk menjadi bagian dari seluruh ceritamu, melainkan memastikan kamu memiliki pena yang cukup kuat untuk menuliskan akhir yang bahagia, bahkan tanpa kehadiranku di sana.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih telah memilih pria yang penuh retakan dan ketidaksempurnaan ini untuk menjadi ayahmu. Bagiku, menjadi ayahmu adalah satu-satunya hal benar yang pernah kulakukan di hidup ini."
Pergilah, terbanglah setinggi langit yang kamu impikan. Jangan khawatirkan aku. Sebab bagiku, melihatmu tumbuh adalah kebahagiaan yang cukup, dan mengetahui bahwa aku pernah menjadi tempatmu bersandar adalah kehormatan terbesar yang pernah Tuhan titipkan.
Padang, 14 Januari 2026
By: Andarizal
