-->
  • Jelajahi

    Copyright © Portalanda
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Seni Menyembunyikan Retak, Saat "Baik-Baik Saja" Menjadi Topeng Paling Lelah

    Senin, 12 Januari 2026, Januari 12, 2026 WIB Last Updated 2026-01-13T01:01:28Z

    Dunia adalah panggung besar yang menuntut kurasi. Di bawah lampu pijar ekspektasi, kita sering kali tampil dengan senyum paling paripurna, seolah hidup adalah simfoni yang tak pernah sumbang. Kita berdiri di depan banyak mata, memoles wajah dengan rona bahagia, padahal di balik tirai kelopak mata, ada badai yang sedang ditenangkan dengan susah payah.


    Ada sebuah kesepakatan tak tertulis bahwa dunia lebih suka melihat tawa daripada air mata. Maka, kita pun menjadi arsitek bagi diri sendiri, sibuk menata luka, menyusun kepingan hati yang retak agar tetap presisi, dan memastikan tidak ada satu pun tetes kesedihan yang tumpah ke lantai pergaulan.


    Kita menyebutnya "ketegaran," namun di dalam sunyi yang paling dalam, kita tahu itu adalah kelelahan yang paling sunyi.


    "Aku bahagia," ucap bibir itu dengan lancar. Namun, itu adalah versi bahagia yang dipinjam, sebuah kostum yang kita kenakan agar orang lain tidak perlu merasa tidak nyaman dengan kegelapan yang kita bawa. Jujur terkadang terasa seperti beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian, apalagi saat dunia tampak terlalu sibuk untuk sekadar berhenti dan mendengarkan isak yang tertahan.


    Berpura-pura kuat adalah pekerjaan purna waktu yang menguras jiwa. Kita belajar menjadi kuat bukan karena kita menginginkannya, melainkan karena kita merasa tidak punya pilihan. Di balik tawa yang dipinjam itu, ada suara-suara yang tak pernah didengar, ada lelah yang menumpuk di pundak, dan ada kerinduan untuk sekadar berkata. "Aku sedang tidak baik-baik saja, dan itu tidak apa-apa."


    Setiap kali kita berkata "aku baik-baik saja" dalam kesendirian, kita sebenarnya sedang memeluk diri sendiri di tengah kedinginan. Kita sedang belajar bahwa terkadang, kekuatan terbesar bukan terletak pada seberapa lebar senyum kita di depan orang lain, melainkan pada seberapa berani kita mengakui luka kita saat lampu panggung telah padam.


    Namun, sampai kapan kita harus meminjam tawa? Luka yang terus ditata tanpa pernah diobati hanya akan menjadi beban yang semakin berat. Mungkin, sesekali kita perlu membiarkan topeng itu retak sedikit saja. Agar dunia tahu bahwa di balik manusia yang "sempurna" ini, ada jiwa yang butuh divalidasi, ada hati yang butuh diistirahatkan, dan ada manusia yang punya hak untuk merasa lelah.


    Karena pada akhirnya, menjadi manusia seutuhnya jauh lebih berharga daripada sekadar menjadi manusia yang terlihat bahagia.


    Padang, 13 Januari 2026

    By: Andarizal

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini