Dunia sering kali menjebak kita dalam perlombaan mencari ilmu-ilmu yang tertulis di atas kertas, gelar yang berderet, angka yang berlipat, dan pengakuan yang bising. Namun, di kedalaman sunyi jiwa, terdapat tiga jenis ilmu yang tidak diajarkan di ruang kelas manapun, namun menjadi penentu apakah seseorang akan menjadi nahkoda yang tangguh atau sekadar buih yang pecah dihantam karang.
I. Ilmu Tau Diri: Mengenal Akar di Balik Rimbun Daun
Langkah pertama dalam perjalanan manusia bukanlah melangkah keluar, melainkan melangkah ke dalam. Ilmu Tau Diri adalah cermin jernih yang menolak segala bentuk kepalsuan. Di hadapannya, kita dipaksa menanggalkan topeng-topeng keangkuhan untuk menyadari siapa kita sebenarnya hanyalah debu di semesta yang luas, namun memikul amanah yang besar.
Mengetahui dari mana kita berasal adalah cara kita menjaga kaki tetap membumi meski kepala sudah menyentuh awan. Seperti pohon yang tahu akarnya, ia tidak akan tumbang saat badai menerpa karena ia paham bahwa kekuatannya bukan pada tinggi batangnya, melainkan pada seberapa dalam ia merengkuh asal-usulnya. Inilah ilmu yang memberi kita tujuan, agar hidup tidak sekadar menjadi perjalanan tanpa peta, melainkan kepulangan yang penuh makna.
II. Ilmu Tau Batas: Irama dalam Simfoni Kehidupan
Hidup adalah sebuah orkestra, dan keindahan musik tercipta bukan karena semua nada dimainkan keras-keras, melainkan karena adanya jeda dan tempo. Inilah Ilmu Tau Batas. Ia adalah benteng yang menjaga kehormatan diri dari keserakahan yang tak bertepi.
* Ia membisikkan kapan kita harus mulai, memberi keberanian pada kaki yang ragu untuk melangkah demi kebenaran.
* Ia menegur kapan kita harus berhenti, mengingatkan bahwa ambisi yang melampaui batas hanya akan membakar diri sendiri dan orang-orang tercinta.
* Ia menuntun kapan kita harus kembali, sebuah keberanian tertinggi untuk memutar haluan saat kaki telah melangkah di jalan yang salah.
Tanpa ilmu ini, manusia hanyalah mesin yang terus berlari hingga hancur, kehilangan arah, dan melupakan fitrahnya sebagai mahluk yang terbatas namun berharga.
III. Ilmu Tau Berterima Kasih: Harumnya Bunga Loyalitas
Puncak dari segala kecerdasan adalah kemuliaan budi. Ilmu Tau Berterima Kasih adalah tentang ingatan hati. Ia adalah cahaya yang menerangi wajah-wajah orang yang pernah meminjamkan bahu saat kita jatuh, yang memberikan tangan saat kita tersungkur, dan yang mendoakan kita dalam diam.
Menjadi orang yang berguna adalah sebuah pencapaian, namun tetap menjadi orang yang tahu budi adalah sebuah kemuliaan. Dunia telah terlalu penuh dengan mereka yang "lupa kulit setelah menjadi kacang," yang merasa keberhasilan adalah milik tunggal jemarinya sendiri. Ilmu ini mengajarkan kita bahwa tak ada manusia yang menjadi besar sendirian. Dengan bersyukur dan berterima kasih, kita tidak hanya memuliakan orang lain, tetapi sedang membangun istana martabat di dalam jiwa kita sendiri.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita tahu, tapi seberapa "tahu" kita akan posisi kita di hadapan Sang Pencipta dan sesama. Menguasai ketiga ilmu ini adalah cara terbaik untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang kian asing.
Padang, 13 Januari 2026
By: Andarizal
