Dunia mungkin mengenalmu sebagai wanita yang tangguh, sosok yang mandiri, dan pribadi yang mampu menaklukkan badai sendirian. Namun, di mataku, waktu seolah berhenti pada detak di mana jemari kecilmu pertama kali menggenggam telunjukku. Bagiku, kau akan selalu menjadi Putri Kecilku, tak peduli seberapa tinggi hak sepatumu atau seberapa berat tanggung jawab di pundakmu.
Aku memperhatikanmu dari kejauhan. Aku melihatmu belajar menjadi kuat, belajar menyelesaikan kerumitan hidup dengan kening yang berkerut, dan belajar menjadi dewasa di antara riuhnya tuntutan dunia. Ada rasa bangga yang membuncah, namun ada pula sembilu yang menyelinap pelan.
Aku tidak takut melihatmu tumbuh besar. Yang aku takutkan adalah hari di mana kau merasa harus memakai topeng "baik-baik saja" di hadapanku. Aku takut pada hari di mana kau pulang dengan senyum paling manis, padahal sebenarnya kau baru saja menelan ribuan luka yang kau simpan sendiri.
Nak, ada sebuah kesedihan yang tak terucap bagi seorang ayah ketika melihat putri kecilnya merasa harus menjadi baja. Kau mungkin berpikir bahwa menceritakan lelahmu akan membebani masa tuaku. Namun, ketahuilah...
"Yang paling menyakitkan bagiku bukan saat melihatmu menangis, melainkan saat kau merasa harus kuat sendirian, seolah-olah aku tak lagi ada sebagai tempatmu bersandar."
Bagiku, tangismu adalah sebuah kepercayaan. Saat kau mengadu tentang betapa melelahkannya dunia, betapa jahatnya kata-kata orang, atau betapa penatnya berpura-pura tangguh, di situlah aku merasa masih menjadi "Ayah" bagimu. Jangan pernah simpan sesak itu sendirian hanya karena kau merasa sudah dewasa.
Jika suatu saat kau merasa lelah pada manusia, jenuh pada kata-kata, dan merasa dunia ini terlalu bising untuk hatimu yang lembut, pulanglah. Tanggalkan semua jubah "perempuan kuat" yang kau pakai di luar sana.
Di sini, di hadapanku, kau tidak perlu menjadi apa-apa. Kau tidak perlu berhasil, kau tidak perlu menang, dan kau tidak perlu sempurna. Jadilah putri kecilku yang dulu, yang boleh menangis tanpa alasan, yang boleh mengeluh tanpa merasa bersalah.
Sebab sejauh apa pun kakimu melangkah, dan sesulit apa pun jalan yang kau tempuh, pintuku tidak pernah terkunci. Bahuku akan selalu menjadi tempat paling aman untukmu meletakkan segala lelah. Karena bagiku, kau tetaplah cahaya kecil yang selalu ingin kulindungi, selamanya.
Padang, 28 Januari 2026
By: Andarizal
