Tanggal 19 Oktober 2026, alhamdulillah, saya diberi Allah kesempatan menjadi tamu-Nya untuk mendatangi Tanah Suci guna menunaikan ibadah umroh.
Sebelum berangkat, sebuah pertanyaan menggelitik sempat mampir di kepala saya. “Apakah di tanah Arab tidak ada yang jual rokok?” Di hati terbersit keinginan membawa satu slop rokok Esse. Saya lalu membuka Google, mencari-cari informasi tentang aturan dan ketersediaan rokok di Tanah Suci Makkah dan Madinah.
“Kalau kehabisan, ada yang jual ndak ya di sana?” tanya saya dalam hati. “Untuk perjalanan umroh sekitar 12 hari, apa ya perlu membawa persediaan penuh? Kalau sehari sebungkus, berarti butuh 12 bungkus.”
Saya bertanya sana-sini kepada mereka yang sudah berpengalaman. Jawabannya hampir seragam. “Di sana tidak ada yang jualan rokok.”
Masak iya sih tidak ada? Kan di sana banyak pekerja migran asal Indonesia yang sebagian besarnya perokok. Terus, dari mana mereka mendapatkan rokok? Dengan asumsi itu, akhirnya saya memutuskan hanya membawa bekal satu bungkus saja. “Bismillah, kalau cukup alhamdulillah, kalau tidak cukup, nanti dipikirin.”
Penerbangan selama sembilan jam dari Kota Padang ke Jeddah benar-benar menjadi siksaan luar biasa bagi saya. Mulut terasa asam bukan main karena harus menahan diri dari nikotin. Saya melihat salah seorang bapak di barisan kursi lain tampak sama stresnya.
“Pengin merokok, Pak?” pancing saya sambil menghampiri tempat duduknya di tengah penerbangan pada ketinggian 30.000 kaki.
“Iya, Pak,” jawabnya lesu.
“Tahan dulu, Pak. Dipakai dzikir saja yang khusyuk.” Ia manggut-manggut pasrah.
Begitu pesawat mendarat sekitar pukul satu malam waktu Jeddah dan pemeriksaan keimigrasian tuntas, rombongan langsung diarahkan ke ruang tunggu. Kedatangan kami disambut oleh tim travel yang sudah mangkal di Makkah, sembari menanti awak bus mempersiapkan perjalanan lanjutan ke Madinah. Suasana di ruang tunggu riuh rendah oleh urusan koper, pengecekan jamaah, dan percakapan para kru bus.
Saya lirik sana, lirik sini. Subhanallah, kok ya tidak ada satu pun orang yang merokok. Saya cari-cari ruang khusus merokok (smoking area) juga tidak ketemu. Sampai akhirnya bus berangkat, dipemberhentian waktu istirahat saya bertemu dengan seorang kru bus asal Indonesia.
Setelah basa-basi sebentar, saya bertanya, “Mas, di sini boleh merokok nggak?”
“Boleh, tapi di sana saja,” jawabnya sambil menunjuk ke sebuah sudut yang agak temaram.
Saya hampir melonjak kegirangan. Serta-merta saya hampiri bapak-bapak sesama jamaah. “Pak, mari merokok!”
“Yang bener?”
Alhamdulillah, sebatang rokok yang kami sulut meski dengan agak buru-buru karena takut ketinggalan bus rasanya benar-benar dahsyat. Bagaikan mendapat karomah. Wajah bapak-bapak itu langsung tersenyum.
“Masih lama nunggunya ini, Mas?” tanya salah seorang dari mereka.
“Kenapa, Pak? Belum puas merokoknya?”
“Alhamdulillah sudah puas, Mas. Makanya saya mau tahajud dulu, mengucapkan Teri makasih sama Tuhan. Masih ada waktu nggak ya?” Saya hanya tersenyum melihatnya.
Tiba di Madinah, kami menjalani rangkaian shalat Arbain di Masjid Nabawi. Selama ritual ini, jamaah diupayakan agar tidak tertinggal satu takbir pun dari imam, sehingga kami harus datang seawal mungkin ke masjid. Ini tentu bukan bagian dari rukun umroh, melainkan bentuk didikan yang baik dari tim pembimbing agar jamaah terbiasa shalat berjamaah di masjid dan tidak masbuk.
Keluar dari area masjid, pussss… saya dan bapak-bapak sesama jamaah langsung mengepulkan asap seperti kereta api uap. Suatu ketika, saya bahkan sempat ditegur oleh penduduk asli Madinah.
“Indonesia bagus,” puji penduduk itu sebuah kalimat standar yang hampir selalu diucapkan warga Madinah dan Makkah jika bertemu jamaah asal Indonesia, entah sekadar basa-basi atau memang benar demikian. Namun, tak lama kemudian, ia memperagakan gaya kami sedang merokok sambil berkata, “Tidak bagus.”
“Aaahhh sudah kito,” sahut seorang jamaah asal Solok membela diri sambil tertawa.
Memasuki hari ketiga, saya mulai gelisah. Persediaan rokok di saku kian menipis. Sementara itu, anggota jamaah "ahli isap" lainnya masih tampak santai karena bekal mereka masih lumayan banyak.
Selepas Subuh, biasanya saya keluar dari area masjid, mencari kopi panas di hotel tempat menginap, lalu menikmati pemandangan umat manusia dari berbagai penjuru dunia yang memadati Madinah. Karena sudah merasa nyaman dan terbiasa, regu kami pun mulai jalan sendiri-sendiri. Selesai ngopi dan merokok, kami kembali ke masjid untuk menunggu waktu shalat sambil bertadarus.
Namun, hari itu saya ingin kembali ke hotel untuk mencuci pakaian kotor. Di tanah perantauan ini, mau tidak mau kami harus mandiri tanpa bergantung pada istri.
Di tengah perjalanan menuju hotel, saya melewati sebuah area semacam emperan toko yang dilengkapi bangku-bangku. Di sana, beberapa jamaah haji asal Afrika sedang asyik mengobrol.
Mereka menyapa saya ramah, “Indonesia!”
Tanpa melihat tas kalung berlogo travel pun, mereka pasti sudah tahu saya orang Indonesia. Mana ada bule bertubuh kecil dan sawo matang selain dari negeri kita?
Saya tersenyum, membalas salam mereka, dan berniat terus berjalan.
“Prabowo, Gibran!” seru salah seorang dari mereka sambil mengacungkan jempol. Entah kenapa, langkah saya terhenti dan saya memutuskan untuk bergabung. “Kopi… kopi,” ucap mereka, memberi isyarat agar saya ikut memesan.
Saya menghampiri seorang pedagang Arab dan memesan segelas kopi dengan bahasa isyarat, maklum saya tidak bisa berbahasa Arab. Sambil menunggu kopi dibuat, mata saya mengelilingi seisi kios. Coba di Indonesia, batin saya, pasti sudah terpampang baliho rokok di mana-mana. Namun di seantero warung itu, sama sekali tidak ada rokok yang dipajang. Orang-orang yang sedang ngopi pun terlihat bersih dari asap rokok.
“Would you smoking?” tanya saya iseng sambil mengeluarkan kretek dari saku. Mereka tertawa-tawa kecil dan menggeleng. Alhamdulillah, batin saya, jatah rokok saya aman. Saya pun merokok sendirian.
Setelah dua-tiga sedotan, sebuah ide muncul di kepala. Kenapa tidak iseng bertanya kepada pemilik kios? Apakah ia menjual rokok, atau tahu di mana bisa membelinya? Masa iya di kota sebesar ini tidak ada manusia yang merokok? Kalau ada perokok, pasti ada yang menjualnya.
Saya menghampiri pemilik kios. Dengan bahasa isyarat, saya mengutarakan niat ingin membeli rokok.
Pria itu merespons dengan suara agak keras, “Laa…” sambil mengibas-ngibaskan tangannya tanda melarang. Saya pun mengurungkan niat, kembali duduk di kursi, dan melanjutkan meneguk kopi serta menghabiskan rokok.
Beberapa saat kemudian, pemilik kios itu memberi kode dengan jarinya agar saya mendekat. Lalu menunjuk ke satu orang, tapi rasa penasaran membuat saya menurut.
Begitu orang tersebut mendekat, rokok - rokok kata orang tersebut lalu membuka isi tasnya.
Isinya rokok! Beberapa bungkus! Pemilik toko lantas buru-buru memberi isyarat agar kalau mau rokok beli saja sama orang itu.
Sayangnya, dari sekian banyak merek di dalam tas orang itu, semuanya asing bagi saya. Tak ada rokok kesukaan, apalagi Esse, yang ada hanya buatan Indonesia. Dua merek yang familier di mata saya Ji Sam Su / 234) dan L.A Bold.
Ketika saya bertanya soal harganya, ia memberi isyarat dengan jarinya, 20 riyal. Gila! Di Indonesia waktu itu harganya sangat murah, di sini harganya melonjak setara kisaran Rp100.000 per bungkus.
Tapi, mau bagaimana lagi? Dari cara penjualannya yang sembunyi-sembunyi, sudah jelas ini masuk kategori pasar gelap. Saya menyimpulkan bahwa perdagangan rokok memang merupakan kegiatan ilegal di Arab Saudi. Tanpa pikir panjang, saya ambil tiga bungkus semua stok L.A Bold saya angkut.
Setidaknya, saya kini punya simpanan cadangan, meskipun rasanya bukan rokok Esse kesukaan saya. Tak apa-apa, yang penting hati tenang dan ibadah bisa lebih khusyuk.
Saya tidak berani cerita kepada teman-teman sekelompok, takut terjadi apa-apa. Meski begitu, mereka sempat heran melihat perubahan saya, “Kok rokokmu sekarang bertukar, Ndan?”
Tanggal 24 siang, selepas menunaikan sholat Dzuhur berjamaah, tibalah saatnya kami meninggalkan Kota Madinah Al-Munawwarah. Hotel tempat kami menginap mulai ditinggalkan. Dengan membawa sisa ketenangan batin usai berhari-hari beribadah di Masjid Nabawi, rombongan kami bersiap naik ke bus. Tujuan hari itu adalah Makkah Al-Mukarramah untuk melaksanakan inti dari seluruh rangkaian ibadah umroh, ihram, thawaf, sa'i, dan tahallul.
Di tengah perjalanan keluar dari Madinah, bus rombongan kami melambat, lalu menepi di sebuah kompleks masjid yang megah dan bersejarah. Masjid Bir Ali (atau yang juga dikenal sebagai Dzul Hulaifah).
Tempat ini bukan sekadar tempat singgah biasa. Di sinilah miqat makani ditetapkan bagi jamaah yang datang dari arah Madinah titik resmi dan mutlak di mana niat umroh harus dimulai, sekaligus saat larangan-larangan ihram mulai berlaku. Suasana di dalam bus seketika berubah menjadi lebih khusyuk dan hening. Semua jamaah pria dari hotel sudah mengenakan kain ihram putih tanpa berjahit, sementara para ibu menyesuaikan pakaian ihram mereka yang serba tertutup.
Begitu turun dari bus, kami melangkah masuk ke dalam area Masjid Bir Ali yang dipadati ribuan jamaah dari berbagai belahan dunia. Udara siang itu terasa hangat menyengat, namun tidak menyurutkan langkah kaki kami untuk segera mengambil tempat wudhu.
Di dalam masjid, kami melaksanakan sholat sunnah mutlak atau sholat sunnah ihram dua rakaat. Usai salam, saatnya memantapkan hati. Dengan menghadap kiblat, kami melafalkan niat umroh di dalam hati dan lisan secara bersama-sama dipimpin oleh pembimbing travel.
“Labbai’ Allahumma ‘umratan.” (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk berumroh).
Sejak detik itu, status kami resmi berihram. Segala pantangan ihram mulai dari menutup kepala bagi laki-laki, memakai wangi-wangian, hingga berbuat rafats (kata-kata kotor atau tidak senonoh) resmi berlaku.
Setelah urusan miqat tuntas, kami kembali bergegas menuju bus yang sudah menunggu di area parkir. Mesin bus dinyalakan, AC kembali mendinginkan kabin, dan roda-roda besar itu mulai berputar meninggalkan Bir Ali.
Perjalanan darat menuju Makkah pun resmi dimulai. Di hadapan kami terbentang jarak ratusan kilometer membelah padang pasir Jazirah Arab, ditemani lantunan talbiyah yang mulai menggema lembut di dalam bus.
“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik...”
Suara koor jamaah mengisi keheningan kabin. Di sela-sela desau AC bus dan kumandang talbiyah yang berulang-ulang, tangan saya meraba sisa-sisa rokok L.A dari "pasar gelap" Madinah di dalam tas. Ah, untuk sementara waktu, urusan nikotin itu harus lenyap dari kepala. Pikiran dan hati kini sepenuhnya tertuju pada satu muara. Baitullah di Kota Makkah.
Tepat pukul 08 entah lewat atau kurang sedikit bus rombongan kami akhirnya memasuki gerbang kota Makkah Al-Mukarramah. Setelah perjalanan darat yang panjang membelah padang pasir dari Madinah, kelelahan langsung terasa di badan. Kami segera diarahkan menuju hotel tempat menginap. Usai makan malam ala kadarnya dan menerima kunci kamar dari pembimbing travel, kami memutuskan untuk langsung beristirahat sejenak, memulihkan tenaga demi persiapan fisik yang prima malam nanti.
Waktu menunjukkan pukul 11.00 malam. Sesuai instruksi, seluruh anggota rombongan berkumpul kembali di lobi hotel dengan mengenakan pakaian ihram yang sejak dari Bir Ali tadi tetap terjaga. Dipimpin oleh pembimbing, kami berjalan kaki beriringan menuju Masjidil Haram yang jaraknya tidak begitu jauh dari hotel.
Begitu melangkahkan kaki memasuki pelataran masjid dan menuruni undakan lantai hingga mata ini pertama kalinya menyaksikan Kakbah yang berdiri gagah di tengah-tengah pelataran suci, seketika segala penat, rasa lelah, dan bayang-bayang dunia seolah lenyap seketika. Rasanya luar biasa haru.
Malam itu, rangkaian ibadah umroh kami jalankan sepenuhnya, mulai dari thawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh putaran, sholat sunnah di dekat Maqam Ibrahim, meminum air Zamzam, dilanjutkan dengan sa'i (berlari-lari kecil bolak-balik) antara bukit Shafa dan Marwah, ditutup dengan tahallul (prosesi memotong rambut). Rangkaian ibadah inti yang melelahkan sekaligus menyucikan itu tuntas dilaksanakan dengan khusyuk.
Menjelang dini hari, rombongan berjalan kembali pulang menuju hotel. Udara malam kota Makkah terasa hangat menyapa kulit. Di saat langkah kaki yang lain sudah tidak sabar ingin segera merebahkan diri di atas kasur empuk kamar hotel, insting lama saya mendadak bangkit kembali.
Sebelum benar-benar memasuki pintu lobi hotel, langkah saya terhenti sejenak. Sambil menarik napas panjang, saya melepaskan hasrat yang sudah berjam-jam ditahan di balik kain ihram. Sembari melirik situasi sekitar yang mulai sepi, saya menyalakan sebatang rokok L.A"pasar gelap" sisa pelarian dari Madinah. Di bawah temaram lampu jalanan kota Makkah, kepulan asap tipis mengepul perlahan ke udara menjadi penutup malam yang panjang setelah lelah beribadah di hadapan Sang Pencipta.
Oleh: Andarizal
