Malam semakin larut, namun udara Kota Makkah seolah membawa kesejukan tersendiri yang membuat percakapan kami dengan Buya Zakaria enggan untuk disudahi. Setelah malam sebelumnya mengupas tuntas strategi agung Rasulullah SAW dalam membangun peradaban di Madinah, malam itu Buya kembali memperdalam satu lembar sejarah penting yang sering kali terlewatkan oleh para peziarah, kemuliaan Masjid Quba yang terletak di Madinah, sekitar 3,5 hingga 5 kilometer di sebelah tenggara dari Masjid Nabawi.
Melihat saya kembali duduk dengan buku catatan kecil di tangan, Buya Zakaria tersenyum hangat. Beliau menyesap kopi hangatnya sejenak, lalu melanjutkan petuahnya dengan suara yang begitu menenangkan.
"Saudaraku," ucap Buya Zakaria membuka lembaran malam itu. "Ketika kita berbicara tentang hijrah Rasulullah SAW ke Madinah, ada satu tempat suci yang tidak boleh kita lupakan. Bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan masjid pertama yang diletakkan batu pertamanya di atas landasan takwa oleh Baginda Nabi sendiri."
Buya mencondongkan tubuhnya, menatap lurus dengan penuh penghayatan.
"Masjid pertama yang dibangun ialah Masjid Quba," tutur Buya dengan nada penuh penekanan. "Sebelum Nabi memasuki pusat kota Madinah, beliau singgah terlebih dahulu di Quba dan mendirikan masjid ini. Allah SWT bahkan mengabadikannya dalam Al-Quran sebagai masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama."
Beliau menghentikan kalimatnya sejenak, membiarkan keagungan makna tempat itu meresap ke dalam sanubari saya.
"Tahukah engkau apa keutamaan masjid ini yang sering disabdakan oleh Rasulullah?" tanya Buya retoris, memberikan jeda sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang bersuci dari rumahnya, lalu mendatangi Masjid Quba dan mendirikan shalat di dalamnya dua rakaat, maka pahalanya sama dengan pahala umroh. Bayangkan betapa luasnya kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Hanya dengan langkah kaki yang suci, niat yang ikhlas, dan dua rakaat shalat sunnah, ganjaran senilai ibadah umroh sudah disarungkan untuknya."
Penjelasan Buya Zakaria tidak berhenti pada keutamaan pahala semata. Sebagai seorang ulama yang sarat pengalaman membimbing jemaah, beliau lantas menarik benang merah dari keutamaan Masjid Quba tersebut ke dalam realitas kehidupan kita sehari-hari.
"Mengapa Allah melipatgandakan pahala di Masjid Quba sedemikian rupa?" Buya merenung pelan. "Karena masjid itu dibangun di atas fondasi keikhlasan yang murni, pada saat kaum Muslimin baru saja keluar dari tekanan berat di Makkah. Quba mengajarkan kita bahwa amal ibadah yang dicintai Allah bukanlah diukur dari seberapa megah bentuknya, melainkan dari kejernihan niat dan kesucian hati yang mengerjakannya."
Buya Zakaria kemudian menepuk pundak saya dengan lembut, memberikan nasehat yang langsung menohok relung batin.
"Di zaman sekarang, manusia sering kali berlomba-lomba memperbanyak amal, tetapi kerap lupa memeriksa kejernihan niatnya. Padahal, amal sekecil apa pun yang dikerjakan dengan dasar takwa seperti langkah kecil menuju Masjid Quba akan mendatangkan keberkahan yang besar di sisi Allah. Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun, dan jangan pernah pula berbangga diri dengan amal yang kita pamerkan kepada manusia."
Nasihat itu mengalir begitu tenang, namun menghujam tajam ke dalam kesadaran. Duduk di bawah langit Makkah, mendengarkan uraian mendalam mengenai Masjid Quba dari seorang guru yang sabar membimbing, membuat perjalanan umrah bersama PT. Berkah Utama Tour & Travel ini terasa kian kaya makna.
Perjalanan fisik melintasi ribuan kilometer dari ranah Minang menuju Tanah Suci pada akhirnya bukanlah sekadar catatan jarak. Ia adalah madrasah batin tempat di mana lelahnya raga dilebur oleh tetesan hikmah, dan setiap jengkal jejak sejarah para nabi menjelma menjadi cermin untuk memperbaiki diri.
Semoga langkah-langkah kecil kami di tanah haram ini, sekecil apa pun itu, dicatat oleh Allah sebagai bagian dari ibadah yang tulus, membawa berkah yang abadi hingga ke negeri asal kami di tanah Minang.
Bersambung....
