-->
  • Jelajahi

    Copyright © Portalanda
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Petuah Lembut Buya Zakaria di Sudut Baitullah

    Selasa, 27 Oktober 2026, Oktober 27, 2026 WIB Last Updated 2026-10-27T08:18:49Z

    Udara Kota Padang masih terasa sejuk ketika langkah kaki saya memantapkan niat. Tanggal 19 Oktober 2026 menjadi awal dari sebuah perjalanan agung yang telah lama dirindukan. Bersama rombongan jemaah umrah dari PT. Berkah Utama Tour & Travel Sumatera Barat, saya meninggalkan tanah kelahiran menuju Baitullah, memenuhi panggilan Sang Pencipta untuk bersimpuh dan memohon ampunan di antara ribuan umat dari berbagai penjuru dunia.


    Perjalanan menuju Tanah Suci bukanlah perkara ringan bagi fisik. Sembilan jam lamanya kami terkurung di dalam kabin pesawat menuju Bandara Internasional Jeddah. Belum cukup di situ, lelahnya tubuh harus kembali diuji dengan lima jam perjalanan darat menuju Madinah, dan bersambung lagi lima jam perjalanan berikutnya untuk tiba di Kota Makkah. Jika ditotal, penatnya perjalanan itu sekilas tampak menguras tenaga. Namun, semua kelelahan itu seakan dibayar tunai begitu menjejakkan kaki di tanah haram.


    Setibanya di Madinah, selain berfokus memperbanyak ibadah dan shalat di Masjid Nabawi, kami juga diajak menelusuri jejak-jejak sejarah Islam. Tim KSA PT. Berkah Utama Tour & Travel yang menetap di Arab yakni Ustadz Fadhilailmi Alridha dan M. Farhan dengan sigap mendampingi rombongan. Kehangatan perjalanan semakin terasa berkat bimbingan sang muthawwif, Drs. H. Zakaria Khatib, yang dengan sabar memandu setiap langkah ritual kami.


    Begitu pula ketika tiba di Makkah. Usai menunaikan rangkaian rukun inti umrah berupa thawaf dan sa'i, kami kembali diajak mengenang sejarah perjuangan Rasulullah di tempat-tempat bersejarah sekitar kota suci.


    Di sela-sela kesibukan ibadah itu, ada satu momen yang paling saya nantikan. Setiap kali ada waktu luang, saya selalu menyempatkan diri mendekati Buya Zakaria. Bukan sekadar bertanya tentang manasik, melainkan untuk menyelami petuah hidup dan belajar memaknai hakikat kehidupan yang sesungguhnya.


    Malam itu, di sudut pelataran hotel yang megah di bawah rindangnya langit Makkah, saya kembali duduk berhadapan dengan Buya Zakaria. Suasana riuh ribuan manusia yang akan bertawaf seakan menjelma menjadi keheningan saat Buya mulai membetulkan letak kopiahnya, menatap saya dengan senyum hangat, lalu menyampaikan bait-bait petunjuknya dengan gaya tutur bahasa yang lembut namun meresap hingga ke lubuk hati.


    "Saudaraku," tutur Buya Zakaria dengan suara pelan namun terdengar sangat jernih di telinga. "Lihatlah ribuan manusia yang akan berputar mengelilingi Ka'bah itu. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada raja, ada pula rakyat biasa. Namun di sini, di hadapan Allah, pakaian kita semua sama, dua lembar kain ihram putih tanpa jahitan. Tidak ada yang membawa ikatan jabatannya, tidak ada yang memamerkan isi dompetnya."


    Beliau menghentikan kalimatnya sejenak, membiarkan makna kata-katanya meresap ke dalam dada saya sebelum melanjutkan.


    "Dunia ini hanyalah panggung sandiwara yang sangat singkat. Ibarat seorang musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon rindang, lalu melanjutkan perjalanan kembali. Banyak orang tertipu oleh bayang-bayang dunia. Mereka mengumpulkan harta hingga lupa jalan pulang, mengejar jabatan hingga mengabaikan akhirat. Padahal, saat nafas terakhir dihembuskan, tak satupun dari harta itu yang ikut masuk ke dalam liang kubur."


    Buya Zakaria kemudian menyentuh bahu saya dengan lembut, memberikan penekanan pada hakikat rezeki dan keluarga.


    "Harta yang melimpah baru akan bernilai jika ia berubah menjadi sedekah, pembebas kesulitan orang lain, dan penopang agama Allah. Istri yang cantik dan anak-anak yang lucu hanyalah perhiasan sementara, kecuali jika kita bimbing mereka menjadi hamba yang taat. Anak yang saleh itulah yang kelak doanya menembus dinding kubur kita, dan istri yang solehah yang akan menggandeng tangan kita memasuki pintu surga. Jangan sampai kita sibuk memberi mereka makan di dunia, tapi lupa memelihara mereka dari api neraka."


    Nasihat itu meluncur begitu indah, tanpa kesan menggurui, namun sanggup meruntuhkan keangkuhan diri yang selama ini tertimbun oleh urusan duniawi. Setiap kata dari Buya Zakaria bak embun pagi yang membasahi tanah yang tandus, meresap hingga ke sanubari dan menyatukan pemahaman saya tentang arti keberadaan manusia di bumi.


    Dari beliaulah, kesadaran itu semakin benderang, bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah yang fana, sedangkan yang kekal abadi adalah kehidupan setelah kematian.


    Sebab itulah, umat yang berakal di seluruh penjuru dunia berlomba-lomba mengejar ridho Allah SWT. Perjalanan umrah ini bukan sekadar perpindahan raga dari Padang ke Makkah, melainkan perjalanan batin untuk kembali mengenali siapa diri kita di hadapan Sang Khaliq. Semoga lelahnya langkah terhitung sebagai sabilillah, dan semoga ibadah umrah ini diterima serta membawa berkah yang abadi dalam sisa usia.


    Bersambung.... 


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini