-->
  • Jelajahi

    Copyright © Portalanda
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Gema Ar-Rahman dan Seni Mensyukuri Napas yang Tersisa

    Minggu, 01 November 2026, November 01, 2026 WIB Last Updated 2026-11-01T17:52:40Z

    Di antara deru waktu yang kadang melelahkan dan hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepi, ada sebuah melodi keabadian yang mengalir lembut dari lembaran suci Al-Qur'an. Ia bukan sekadar bait, melainkan sebuah sapaan agung dari Yang Maha Kasih. “Fabi-ayyi ‘ala-i Rabbikuma tukadzdziban...” (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?).


    Kalimat itu diulang hingga tiga puluh satu kali dalam satu surah yang sama QS. Ar-Rahman. Bukan tanpa alasan Sang Pencipta mengulang-ulangnya bagai debaran jantung yang konstan. Itu adalah titian cinta, teguran yang dibalut kelembutan, agar kesadaran kita yang sering tertidur lelap di atas hamparan karunia-Nya kembali terjaga.


    Pernahkah kita merenung, mengapa pengulangan itu begitu sering? Karena manusia adalah makhluk yang pelupa. Kita sering kali merasa penat atas satu kerikil kecil di jalan, lalu menutup mata rapat-rapat terhadap gunung-gunung kenikmatan yang telah Dia bentangkan. Kita menghitung air mata kesedihan, tetapi kerap lupa menghitung tetes napas dan detak jantung yang terus diizinkan berdegup tanpa henti.


    Setiap kali ayat itu hadir di penghujung sebuah ayat tentang hamparan bumi, lautan yang luas, buah-buahan yang ranum, hingga teduhnya ketenangan jiwa, seolah Allah sedang menatap kita dengan penuh kasih dan berfirman. 


    "Wahai hamba-Ku, lihatlah ke bawah kakimu, lihatlah ke atas langitmu, lihatlah ke dalam dadamu... Bukankah semuanya itu adalah bukti nyata dari cinta-Ku? Lalu, di bagian mana dari nikmat-nikmat ini yang tega engkau dustakan?"


    Siraman qolbu terbaik adalah ketika lisan tidak hanya membaca, tetapi batin turut bergetar. Ketika kita melafalkan Fabi-ayyi 'ala-i Rabbikuma tukadzdziban, biarlah ia menjadi cermin bening untuk membersihkan hati, ketika tangan ini masih mampu menengadah, ketika mata ini masih diberi izin melihat indahnya ciptaan-Nya, bukankah itu rahmat? Bahkan, di dalam setiap ujian, kesabaran yang Dia titipkan di dada kita adalah bentuk kasih sayang-Nya yang lain agar kita tidak pernah berjalan sendiri.


    Mari basahi lidah dan tenangkan jiwa dengan senantiasa merenungkan ayat ini. Menyadarkan diri bahwa hidup ini adalah anugerah yang teramat luas, dan rasa syukur adalah sebaik-baik tempat kembalinya hati yang lelah.


    Sebab sering kali, syukur bukanlah tentang seberapa banyak hal luar biasa yang kita genggam, melainkan tentang bagaimana kita belajar melihat keindahan di balik hal-hal sederhana yang kerap kita abaikan.


    Tariklah napas dalam-dalam. Rasakan bagaimana udara berhembus mengisi rongga dada, mengalirkan kehidupan tanpa pernah kita minta bayaran. Jantung yang terus berdetak, langkah kaki yang masih diizinkan menapak bumi, serta kedamaian kecil di sela-sela lelahnya hari, bukankah itu semua adalah keajaiban yang teramat mahal?


    Dunia mungkin tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita rancang. Ada kalanya hari-hari terasa berat, pintu rezeki seakan bergeser lambat, atau lelah mendera pundak yang rapuh. Namun, di situlah letak keindahan iman, keyakinan bahwa di balik setiap skenario-Nya, tersimpan kasih sayang yang tak pernah putus. Allah tidak pernah menitipkan beban melainkan bersamaan dengan kekuatan untuk memikulnya, serta beribu kemudahan yang menyertainya.


    Maka, mari kita rundukkan sejenak kepala, basahi lidah dan relung hati untuk berucap. Alhamdulillah.


    Segala puji bagi Zat yang tidak pernah meninggalkan kita, bahkan di saat kita lalai mengingat-Nya. Mulai hari ini, mari belajar melepaskan keluh kesah yang menumpuk, menggantinya dengan penerimaan yang lapang, dan memandang setiap detik sisa usia sebagai kesempatan emas untuk berbuat baik serta mencintai sesama.


    Karena pada akhirnya, hidup yang paling tenang bukanlah hidup yang tanpa ujian, melainkan lahir dari jiwa yang senantiasa tahu cara berterima kasih atas setiap tarikan napas dan titipan takdir-Nya.


    Ya Rabb, bimbinglah hati kami untuk senantiasa mengenali nikmat-Mu, dan jadikanlah sisa usia kami sebagai ladang syukur yang tak pernah henti.


    Oleh: Andarizal

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini