Riuh rendah tuntutan audit operasional oleh Komisi II DPRD Kota Padang terhadap Perumda Air Minum (PDAM) Kota Padang mewarnai awal tahun 2026. Namun, di balik perdebatan administratif tersebut, terdapat realitas lapangan yang nyaris luput dari pandangan publik, sebuah perjuangan teknis luar biasa pascabencana banjir bandang yang melanda akhir tahun lalu.
Masyarakat perlu memahami bahwa banjir bandang 2025 bukan sekadar genangan air, melainkan hantaman material alam yang melumpuhkan infrastruktur vital. Laporan lapangan menunjukkan bahwa banyak pipa transmisi utama urat nadi distribusi air kota yang terputus total akibat pergeseran tanah dan hantaman batang pohon besar.
Memperbaiki infrastruktur dalam kondisi pascabencana jauh berbeda dengan pemeliharaan rutin. Petugas harus menembus medan yang masih labil, mengangkut pipa baja seberat ratusan kilogram secara manual ke lokasi sumber air (intake), hingga melakukan pengelasan di titik-titik sulit yang berisiko tinggi. Inilah alasan mengapa pemulihan layanan tidak bisa terjadi dalam semalam, ada proses teknis yang menuntut ketelitian demi keamanan jangka panjang.
Di bawah komando jajaran direksi, petugas PDAM Kota Padang telah menunjukkan etos kerja yang patut diapresiasi. Bekerja dengan sistem shift 24 jam, mereka mengorbankan waktu istirahat demi satu tujuan, memastikan air kembali mengalir ke rumah warga. Dedikasi Dirut PDAM yang turun langsung memantau pengerjaan di titik-titik kritis menjadi bukti bahwa manajemen tidak tinggal diam.
Masyarakat Kota Padang pun mulai melihat secara objektif. Meskipun keluhan tetap ada, banyak warga yang memaklumi bahwa kerusakan masif pada fasilitas publik memerlukan waktu perbaikan yang rasional. "Kami melihat mereka bekerja siang dan malam di lokasi. Kami tahu ini tidak mudah," ujar salah seorang warga di kawasan terdampak.
Pengajuan audit oleh DPRD nomor 03/Kom II-DPRD/I-2026 sebenarnya bisa menjadi momentum positif. Audit ini bukan harus dilihat sebagai ancaman, melainkan instrumen untuk memvalidasi fakta-fakta lapangan tersebut. Hasil audit nantinya justru berpotensi membuktikan kepada publik bahwa keterlambatan layanan murni disebabkan oleh kendala teknis dan skala bencana yang luar biasa, bukan karena kelalaian manajemen.
Sinergi antara pengawasan yang ketat dari DPRD dan apresiasi terhadap keringat petugas lapangan adalah kunci. Pemulihan infrastruktur air bersih Padang memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun dengan kerja keras yang transparan, air kehidupan itu akan perlahan kembali mengalir ke setiap sudut kota.
Padang, 26 Januari 2026
Oleh: Andarizal
