PADANG - Wilayah Sumatera Barat (Sumbar) saat ini tengah diselimuti kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari provinsi tetangga. Kondisi ini memicu penurunan kualitas udara yang signifikan hingga berada di level Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat bagi kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pemantauan terbaru pada Oktober 2026, dominasi partikel halus PM2.5 membuat kepekatan udara di beberapa daerah melampaui ambang batas aman. Di Kota Padang, indeks kualitas udara (AQI US) sempat menyentuh level 219–220 dengan kategori Sangat Tidak Sehat, di mana konsentrasi PM2.5 tercatat sangat tinggi, yakni berkisar antara 144 \mu g/m^3 hingga 145 \mu g/m^3.
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Solok, di mana indeks polusi melonjak hingga angka 165 (Tidak Sehat) dan mulai mengganggu aktivitas luar ruangan, termasuk perhelatan atlet Porprov XVI Sumbar. Sementara itu, Kabupaten Dharmasraya mencatatkan nilai ISPU 113 hingga AQI 152 dengan kategori Tidak Sehat, yang sempat membuat pemerintah setempat memberlakukan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Secara visual, kabut asap tebal ini juga memperpendek jarak pandang secara drastis, khususnya di jalur perbatasan Sumbar–Jambi.
Makin pekatnya kabut asap ini memicu keresahan di kalangan orang tua murid. Sebagian wali murid berharap Dinas Pendidikan Sumatera Barat segera mengeluarkan kebijakan terpusat agar proses belajar mengajar dialihkan secara daring atau dirumahkan demi keselamatan anak-anak.
Menanggapi desakan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Barat, Habibul Fuadi, saat dikonfirmasi awak media (8/10) terkait langkah meliburkan kegiatan sekolah, menyatakan bahwa kebijakan tersebut diserahkan kepada wilayah masing-masing.
"Mengikuti kebijakan kabupaten/kota setempat," ujar Habibul singkat.
Sementara itu, untuk tingkat pendidikan menengah atas, ia menegaskan bahwa kebijakan bagi SMA/SMK akan "menyesuaikan" dengan kondisi riil di daerah.
Dengan kebijakan yang diserahkan ke tingkat daerah ini, para orang tua diimbau untuk terus memantau perkembangan cuaca serta mengarahkan anak-anak mereka agar mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker pelindung yang memadai demi menghindari dampak buruk partikel PM2.5. (Red)
