PADANG – Pemerintah Kota Padang menegaskan komitmennya dalam mendukung kemandirian ekonomi nasional melalui optimalisasi belanja produk lokal. Hal ini ditegaskan oleh Wali Kota Padang, Fadly Amran, saat membuka secara resmi kegiatan Business Matching Belanja Produk Dalam Negeri di Ruang Bagindo Aziz Chan, Balai Kota Aia Pacah, Kamis (12/2/2026).
Kegiatan ini merupakan langkah konkret Pemko Padang untuk mempertemukan kebutuhan pengadaan pemerintah dengan para penyedia barang dan jasa, khususnya pelaku usaha dalam negeri dan UMKM lokal.
Dalam sambutannya, Fadly Amran menyatakan bahwa pemerintah daerah memiliki kekuatan besar untuk mengintervensi kebijakan pengadaan barang dan jasa. Menurutnya, keberpihakan pada produk lokal adalah kunci agar roda ekonomi daerah berputar lebih cepat.
"Sebagai pemerintahan, tentu kita bisa memilah pengadaan barang. Hal ini sangat sinkron dengan visi kita untuk membuat UMKM naik kelas. Kita ingin pengadaan ini menjunjung tinggi TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) sehingga perusahaan lokal kita bisa lebih sejahtera," ujar Fadly.
Meski mendorong penggunaan produk lokal, Wali Kota mengingatkan seluruh perangkat daerah agar tetap mengedepankan prinsip profesionalisme. Ia meminta jajarannya lebih cermat dan selektif dalam memilih penyedia agar kualitas pelayanan publik tetap terjaga.
"Penganggaran di Pemko Padang harus mampu menghadirkan perusahaan terbaik dengan kualitas mumpuni dan harga yang efisien. Namun, tetap harus memberikan ruang bagi pengusaha lokal untuk tumbuh. Inilah sinkronisasi yang kita dorong melalui business matching ini," tambahnya.
• Prioritas TKDN: Mewajibkan perangkat daerah memprioritaskan produk dengan komponen dalam negeri tinggi.
• Pemberdayaan Lokal: Menjadikan belanja pemerintah sebagai instrumen penggerak bagi pengusaha lokal agar mampu bersaing secara nasional.
• Efisiensi Anggaran: Menjamin bahwa dukungan terhadap produk lokal tetap memperhatikan efisiensi anggaran daerah.
Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara sektor publik dan swasta di Kota Padang semakin solid, sekaligus menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif di tahun 2026. (And)
