Di arena kerja pers, suara paling keras sering kali bukan datang dari bobot berita, melainkan dari gema ego yang berlebihan. Fenomena jurnalis yang merasa paling hebat, tampil jumawa di depan narasumber, lalu tega mengerdilkan rekan seprofesi di lapangan, adalah potret buram yang kian mengikis martabat dunia kewartawanan. Sikap merasa superior ini tidak hanya menunjukkan ketidakdewasaan etika, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap marwah pers itu sendiri.
Menjadi jurnalis bukan tentang siapa yang paling garang menepuk dada atau siapa yang paling lihai menjatuhkan sesama di garis depan pencarian fakta. Nilai sejati seorang insan pers diukur dari produk yang dihasilkannya, seberapa dalam investigasinya, seberapa presisi verifikasi datanya, seberapa tajam angle yang diangkat, dan seberapa besar manfaat berita tersebut bagi publik. Ketika kesombongan dijadikan tameng untuk menutupi minimnya kualitas karya, yang tersisa hanyalah retorika kosong tanpa makna.
Publik dan narasumber hari ini tidak bisa dibodohi. Mereka mampu membedakan dengan jelas mana jurnalis yang bekerja atas dasar integritas dan pencarian kebenaran, dengan mereka yang sekadar memburu panggung untuk kepuasan ego pribadi. Sikap jemawa di depan narasumber yang disertai perilaku merendahkan sejawat justru menelanjangi ketidakpercayaan diri pengusungnya. Jurnalis yang matang dan berpengalaman justru semakin menunduk seperti padi makin berisi, makin rendah hati karena paham betul bahwa berita berkualitas bisa lahir dari sudut terpencil dan dari tangan siapa saja.
Sudah saatnya industri dan komunitas pers kembali pada khittahnya. Solidaritas profesi harus ditegakkan, dan persaingan sehat wajib dibuktikan lewat kualitas tulisan serta liputan, bukan lewat intimidasi moral antar sesama jurnalis.
Pada akhirnya, di balik kartu pers yang dikalungkan dan kamera yang dijinjing, setiap jurnalis adalah manusia biasa yang pulang ke rumah membawa lelah yang sama. Kita semua tanpa terkecuali sedang menempuh perjuangan hidup masing-masing di tengah zaman yang tidak pernah mudah.
Merendahkan rekan sejawat tidak pernah membuat pena kita lebih tajam, pun tidak membuat berita kita lebih bernilai. Justru dalam kesederhanaan, empati, dan sikap saling merangkul itulah kekuatan sejati insan pers ditemukan. Mari kembalikan ruang pers sebagai rumah belajar yang hangat, tempat di mana yang senior mengayomi, yang muda menghormati, dan semuanya saling menguatkan demi satu tujuan mulia, menyampaikan kebenaran bagi masyarakat.
Padang, 25 Agustus 2026
Oleh: Andrizal
